Benih jagung DEKALB DK 771 jadi solusi atasi bulai

Di Jember mampu produksi 12,2 ton per hektar.

Corporate Engagement Lead Monsanto Indonesia, Herry Kristanto (kiri) didampingi Manager PT Karisma Indoagro Universal, Boomo Teguh Samsono tengah melihat salah satu jagung yang menggunakan benih jagung DEKALB DK771 di Jember. Foto-ist

LENSAINDONESIA.COM: Benih jagung DEKALB DK 771 yang diproduksi dari Monsanto Indonesia kini mulai digunakan oleh para petani Kabupaten Jember Jawa Timur. Sebab benih jagung tersebut mengusung keunggulan tahan terhadap penyakit bulai.

Boomo Teguh Samsono, Seed Busines Manager PT Karisma Indoagro Universal, mitra pemasaran Monsanto di  Jawa Timur mengatakan, penggunaan benih jagung berkualitasbisa dipastikan angka keberhasilan panen petani meningkat.

“Penggunaan benih berkualtias yang toleran terhadap penyakit bulai seperti salah satunya DEKALB DK771 bisa menjadi pilihan bagi petani,” ujarnya di sela pameran pertanian DEKALB Learning Center 2017 yang digelar di Desa Jambearum, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jumat (01/09/2017).

Selain penggunaan benih jagung yang berkualitas, Boomo juga menyarankan kepada para petani untuk mengaplikasikan cara bercocok tanam efektif dan efisien sehingga mampu memberikan hasil maksimal bagi petani.

“Misalnya di Kabupaten Jember ini, kami mendorong penggunaan metode partanian tanpa olah tanah (TOT) yang bisa menghemat pengeluaran petani hingga Rp 1,5 juta per hektar per musim tanam. Selain itu, kami juga mengenalkan pola tanam Silase dimana jagung dapat dipanen ketika masih muda untuk menjadi pakan ternak seperti sapi. Kedua metode tanam tersebut bisa jadi alternatif bagi petani yang ingin hasil panen lebih cepat atau biaya tanam yang minim namun dengan hasil panen yang tak terpaut jauh dengan metode konvensional yang selama ini dipakai,” jelas Boomo.

Sementara itu, Ibnu Amin Ridwan, Technology Development Lead Monsanto Indonesia mengungkapkan,  pihaknya berkomitmen untuk terus mendampingi petani untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

“Kami akan selalu berkomitmen mendampingi petani agar bisamemperoleh hasil maksimal, termasuk memberikan akses terhadap teknologi dan pengetahuan bercocok tanam yang lebih efektif dan efisien ,” kata Amin.

Di sisi lain, Darmanto, petani jagung asal  Desa Andongsari Kecamatan Ambulu, Jember mengatakan, saat ini penyakit Bulai masih menjadi momok  para petani jagung di Kabupaten Jember. Bahkan, di beberapa daerah termasuk daerahnya, penyakit Bulai masih menjadi ancaman serius, untuk itu benih yang tahan terhadap penyakit tersebut menjadi pilihan mutlak bagi petani. Dengan demikian, kerugian akibat gagal panen bisa dihindari.

“Saat ini saya menggunakan benih jagung DEKALB DK771 yang mengusung keunggulan tahan terhadap bulai serta mempunyai hasil yang baik. Untuk setiap 1/4 hektar, lahan saya mampu menghasilkan 2,7 ton jagung pipilan kering atau dengan kata lain tingkat produktivitasnya mencapai 10,88 ton per hektar,” papar Darmanto.

Darmanto menambahkan, dari sekitar 1 hektar lahan yang dikelolanya, hanya sekitar 0,2% yang terserang tanaman Bulai. Serangan ini jauh lebih sedikit dibandingkan petani lain yang tak menggunakan benih tersebut.

“Petani lain bisa terserang bulainya hingga 25% dari total lahan atau lebih. Sebab itu, kami selalu mengajak petani lain untuk mengunakan benih berkualitas yang tahan terhadap penyakit,” imbuhnya.

Benih DEKALB DK771 memiliki potensi hasil cukup tinggi di wilayah Kabupaten Jember, bisa mencapai 12,2 ton per hektar. Dan setiap daerah mempunyai metode cocok tanam yang bisa disesuaikan  kebutuhan petani.@Rel-Licom