Jadi DPO, advokat Hairanda ditangkap di atap gudang

Kasus penipuan klien

Advokat Hairanda Suryadinata (lingkar merah) saat ditangkap tim eksekutor kejaksaan di atap sebuah gudang di Jl Cempaka Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu (13/09/2017). FOTO: LICOM

LENSAINDONESIA.COM: Tim eksekutor Kejari Surabaya bekerjasama dengan Kejari Banjarmasin dan Banjar Baru berhasil menangkap advokat Hairanda Suryadinata di Jl Cempaka Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (12/09/2017) malam.

Hairanda merupakan terpidana kasus penipuan yang selama ini menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO).

Pihak kejaksaan sempat kehilangan jejak saat melakukan pengejaran terhadap advokat Hairanda. Sebab terpidana kasus penipuan terhadap klien tersebut berupaya melarikan diri ke Balikpapan.

Namun kejaksaan mulai menemukan titik terang terkait posisi Hairanda yang dikabarkan sedang bersembunyi di kediamannya di Jl Cempaka, Banjarmasin.

“Saat ditangkap tim eksekutor, Hairanda sempat melarikan diri, Dia mau lari lewat pintu belakang rumahnya dan masuk ke dalam sebuah gudang, yang masih satu lokasi dengan rumahnya,” terang salah satu tim eksekutor dari Kejari Surabaya.

Sampai digudang tersebut, Hairanda langsung memanjat ke sebuah atap. Namun upaya Hairanda untuk bersembunyi gagal. Sebab tim eksekutor yang terdiri dari Kejari Surabaya, Kejari Banjarmasin dan Kejari Banjar Baru berhasil menemukan lokasi persembunyiannya.

“Terpidana kami bawa ke Kejari setempat untuk menjalani pemeriksaan. Selanjutnya diterbang ke Surabaya, Rabu (13/09/2017) sekitar pukul 14.30 WITA, menggunakan pesawat Lion Air,” tambahnya.

Setibanya di Bandara Juanda, Hairanda akan langsung dibawa ke Rutan Medaeng untuk menjalani hukuman 2 tahun penjara atas kasus penipuan yang dilakukannya.

“Terpidana Hairanda Suryadinata langsung kami bawa ke Rutan Medaeng,” terang Kasipidum Kejari Surabaya, Didik Adyotomo.

Untuk diketahui, Kasus pidana Harianda ini bermula dari adanya permasalahan hukum yang dialami Mulyanto bersama Juliati Wjayanti (istri), Alvianto Wijaya (anak) serta Thio Sin Tjong (temannya). Mereka dilaporkan oleh Juniwanti Sugihman atas tuduhan penganiayaan, pengeroyokan, serta pengerusakan.

Saat itu, Hairanda ditunjuk sebagai pengacara kasus mereka. Nah, ditengah proses hukum itulah, Hairanda mengaku bisa menghentikan kasus tersebut dan meminta uang ratusan juta rupiah untuk mengkondisikan kepolisian.

Namun setelah uang diberikan sebesar Rp 165 juta, mereka justru ditetapkan sebagai tersangka oleh Polrestabes Surabaya. Advokat Hairanda pun lari dari tanggung jawabnya, hingga akhirnya dilaporkan ke polisi telah melakukan penipuan.

Tanpa melalui advokat Harianda, kasus Mulyanto beserta keluarganya akhirnya dihentikan oleh penyidik. Polrestanes Surabaya mengeluarkan SP3 karena ada perdamian antara Mulyanto sekeluarga dan pihak Juniwanti.

Oleh Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Hairanda divonis bersalah. Dia diganjar hukuman 1 tahun dan 6 bulan penjara. Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan Kejari Surabaya yang sebelumnya menuntut Hairanda dengan hukuman 3 tahun penjara.

Tak puas dengan vonis hakim PN Surabaya, Hairanda mengajukan upaya hukum. Tapi hukuman Hairanda justru diperberat oleh Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya menjadi 2 tahun penjara.

Hairanda kembali melakukan perlawanan, Dia pun menempuh jalur kasasi. Tapi upaya Hairanda kandas, Hakim ditingkat kasasi menolak kasasinya dan menguatkan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya.@rofik