Jika DBH migas lintas provinsi, inilah yang akan terjadi di Cepu

Berbeda kondisi dengan Bojonegoro

Jika Dana Bagi Hasil (DBH) dari migas di lintas provinsi, kemiskinan Cepu menyusut. Foto-Eld

LENSAINDONESIA.COM: Pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) dari migas yang diterima oleh Cepu-Blora dirasa masih kurang proporsional. Maka dari itu, DBH yang diterima oleh Cepu tergolong minim dibanding Bojonegoro.

Elan Biantoro, Vice President Management Representative SKK Migas mengatakan, melihat kenyataannya Cepu memang tetap menerima DBH migas sesuai jumlah yang sudah ditentukan yakni 15 persen namun masih dibawah jauh dibanding Bojonegoro.

“DBH yang sudah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah nilainya ditetapkan sejumlah 15 persen. Namun, yang jadi pertanyaan mendasar, kenapa Cepu yang dikenal dengan migas nya masih memiliki angka kemiskinan yang cukup tinggi dibanding Bojonegoro? Ini karena di Bojonegoro memiliki hasil migas lebih banyak, padahal Cepu letaknya hanya belasan kilometer dari Bojonegoro,” papar Elan kepada Lensaindonesia.com, Rabu (20/09/2017).

Elan menambahkan, jika aturan DBH tersebut berbasis lintas provinsi, maka tingkat kemiskinan di Cepu sendiri bisa ditekan seminimal mungkin.Dan terkait hal ini, kementerian dalam negeri harus menyikapi.

“Jika dari aturan perhitungan yang sudah ditetapkan, dari DBH 15 persen tersebut jika dibreak down, kalau minyak sebesar 3 persen untuk provinsi, 6 persen untuk kabupaten penghasil dan 6 persen untuk kabupaten tetangga dalam satu provinsi. Bagaimana pun juga, mereka seharusnya peka, bagaimanapun juga hasil minyak dari Banyu Urip Bojonegoro, ekspedisinya pun melewati jalur Cepu,” ungkap Elan.

Sementara itu, Arief Rohman, Wakil Bupati Blora menyampaikan, tingkat kemiskinan di Kabupaten Blora khususnya Cepu masih di angka 13 persen lebih. Jika melansir angka kemiskinan nasional, masih di angka 10,6 persen di tahun 2016 lalu. Hal ini memprihatinkan jika angka kemiskinan di Cepu ini masih menggelayuti.

“Kami berharap di tahun ini angka kemiskinan 13 persen tersebut bisa ditekan hingga jatuh di angka 9 persen hingga akhir tahun ini. Sebab di Blora yang dieksplorasi masih sedikit, jadi memang DBH masih kecil. Dan nilai DBH yang kami terima masih kecil, hanya di angka 25 hingga 30 milyar per tahun,” tandas Arief.

Jika sarana dan pra sarana bandaranya semua ada di Cepu, lanjut Arief, maka bisa memberikan pemasukan lebih dari sumber baru.

“Kita punya hasil gas di Gundi tersebut cukup menyumbangkan nilai yang lumayan. Untuk itu, beberapa eksplorasi yang berlangsung ini menghasilkan minyak yang cukup maksimal dibanding periode sebelumnya. Namun, Blora juga masih memiliki komoditas lain yang cukup menjanjikan, yakni hasil hutan terutama kayu jati yang cukup melimpah sebagai salah satu aspek yang akan mampu meminimalisir angka kemiskinan di Cepu tentunya,” pungkas Arief.@Eld-Licom