Ahli hukum pidana minta dugaan penghilangan barang bukti narkoba di Surabaya diusut

Wayan Titib: Oknum jaksa bisa dipecat dan dijadikan tersangka

Ahli hukum pindana Unair Surabaya, I Wayan Titip Sulaksana. FOTO: Istimewa

LENSAINDONESIA.COM: Kasus dugaan penghilangan sebagian barang bukti narkoba jenis sabu oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Linda B Karundeng dari Kejari Surabaya mendapat sorotan dari berbagai kalangan, termasuk dari akademisi.

Ahli hukum pidana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, I Wayan Titib Sulaksana mengatakan, bila kasus tersebut tersebut benar-benar terjadi maka hal itu sangat mencoreng penegakan hukum di Indonesia.

Menurutnya, kasus dugaan penghilangan barang bukti dengan motif untuk meringankan vonis terdakwa pengedar narkoba tersebut harus diusut secara tuntas.

“Bila terbukti, oknum jaksa itu harus dipecat dan dijadikan tersangka,” katanya kepada wartawan di Surabaya, Kamis (11/10/2017).

Wayan pun mempertanyakan dimana keberadaan barang bukti yang diduga dihilangkan tersebut. “Jangan-jangan barang bukti itu dijual?. Tolong Kajari benar-benar serius dalam mengusut kasus memalukan ini,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, tiga pengedar narkoba jenis sabu masing-masing Ryan Satria (20) warga Jl Bumiharjo, Danu Kusuma Ardhana (21) warga Jl Kalianak Timur dan Arga Debaran (25) warga Jl Pulosari, mendapat perlakuan istimewa dari JPU Linda B Karundeng dari Kejari Surabaya, setelah separuh lebih barang bukti diduga sengaja dihilangkan.

Ketiganya ditangkap Sat Reskoba Polrestabes Surabaya pada 12 April 2017 di Rumah Ryan Satria di Jl Bumiharjo.

Saat itu, polisi menyita barang bukti sabu 0,21 gram, timbangan elektrik, 2 pipet kaca, botol kosong, korek api dan puluhan plastik klip kosong.

Oleh polisi, ketiga ditangkap Sat Reskoba Polrestabes Surabaya pada 12 April 2017 dan dijerat pasal 114 ayat (1) juncto Pasal 132 Ayat (1) Subsider Pasal 112 Ayat (1) juncto Pasal 132 Ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009, tentang narkotika.

Bila dilihat penerapan pasal 114, maka ketiganya ditengarai sebagai pengedar atau bandar.

Namun saat kasus ini sudah dilimpahkan ke Kejari, terjadi perubahan. Sebab barang bukti sabu yang awalnya 0,21 gram, berubah menjadi 0,010 gram. Sedangkan barang bukti lainnya dihilangkan.

Lalu pada sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Maxi Sigarlaki tersebut, JPU menuntut ketiganya selama 1,6 tahun penjara dan hakim memvonis 1 tahun penjara.@rofik