Surabaya, Lensa Indonesia-Musik adalah panggilan jiwa, bagian dari hidup. Musik juga merupakan ungkapan perasaan yang mampu menghilangkan depresi. Di dalamnya tercurah semua yang kita rasakan mulai sedih, kecewa, bahagia.Ini kata Yuri Honing dan Joost Lijbaart, musisi dari Belanda, personil Yuri Honing Acoustic Quartet yang tampil di Surabaya, Selasa (2/11) malam. Honing memainkan saxophone, sedangkan Lijbaart memainkan drum. Anggota lainnya adalah Wolfert Brederode (piano) dan Frans van der Hoeven (bass).

Mereka tampil dalam konser yang diadakan Yayasan Pendidikan Kebudayaan Indonesia-Belanda (YPKIB) bersama Erasmus Huis Jakarta. Setelah di Surabaya, mereka akan tampil di Semarang, Jogja, Jakarta dan Bogor.

Dalam konser tersebut, mereka memainkan delapan komposisi yang sebagian hasil aransemen Honing diantaranya Sweet Surrender, All I Need, Paper Bag, Miracle of Fishes, English Folk Song, Armenia Folk Song dan Bora yang mengisahkan angin pantai yang bertiup di selatan Prancis.

Honing dan Lijbaart tak menyebutkan aliran musik yang mereka mainkan karena menurut mereka itu tak penting. Yang pasti, mereka bermain sebaik mungkin untuk menghibur audiens.

“Audiens cukup datang, duduk menikmati musik kami, terhibur dan pulang dengan gembira. Ini keinginan semua musisi,” ujar Honing menjelang konser. Ia pimpinan kuartet yang dibentuk setengah tahun lalu itu.

Honing mengaku, ini kedua kali ia ke Indonesia, namun pertama kali ke Surabaya. Pertama kali ia ke Indonesia yaitu ke Jakarta, enam tahun lalu.

Ljibaart mengatakan, mereka sering melakukan perjalanan ke banyak negara selama bertahun-tahun. Jadwal mereka padat, namun mereka sudah terbiasa dan menikmatinya karena ini bagian dan konsekuensi dari kehidupan bermusik.

“Saking padatnya jadwal, sampai tak sempat jalan-jalan dan berbelanja,” ujar Honing lalu tertawa. “Tapi kami sudah terbiasa dan menikmatinya. Bermusik itu menyenangkan,” imbuhnya.

Kesibukan itu tak membuat mereka kehilangan inspirasi dan kreativitas. Bagi mereka, inspirasi bisa diperoleh dari mana saja, dari kehidupan sehari-hari maupun dari alam sekitar.Traveling pun bisa jadi inspirasi.

Menurut Lijbaart, jika sedang tur, mereka akan fokus pada musik. Jika di rumah, mereka fokus pada keluarga, bermain dengan anak-anak. Honing dan Lijbaart masing-masing memiliki dua anak.

“Jika sedang santai, kami bisa berkreasi,” ujar Lijbaart yang mengaku sudah 36 tahun bermain drum. Sedangkan Honing sudah bermain saxophone lebih dari 20 tahun. Mereka merupakan teman main selama 25 tahun.

Honing mencintai saxophone sejak kecil. Ia mengekspresikan perasaan dan musik dalam permainan saxophone. Menurut ia, untuk benar-benar menguasai saxophone dan memainkan lagu-lagu dengan alat musik itu dengan baik memang tak mudah. Makin tinggi tingkat penguasaan, makin sulit.

Honing menyukai dan mempelajari berbagai jenis musik mulai jazz, klasik, hingga musik Timur Tengah termasuk musik Arab yang dipelajarinya selama 9 tahun. Menurut ia, musik Arab punya ciri khas yang unik.

Senada dengan Honing, Lijbaart mengatakan, ia mengekspresikan perasaan dan musik dalam permainan drum. Hingga kinipun ia terus belajar agar permainan musiknya menjadi lebih baik dan disukai audiens.

lia