Jakarta,lensa Indonesia-Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mendesak hotel berbintang se Indonesia, hendaknya memajang warisan budaya yang sudah diakui dunia. Warisan budaya yang diakui UNESCO yang masuk daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia atau Representative List of he Intangible Cultural Heritage of Humanity adalah wayang, keris, batik dan angklung.”Manajemen hotel berbintang seharusnya memajang warisan budaya yang sudah diakui UNESCO, di dinding kamar hotel, ballroom, serta tempat strategis di dalam hotel untuk menunjukkan ada rasa kebanggan bahwa empat warisan budaya asal Indonesia, sudah diakui dunia,” ungkap Jero Wacik pada pengukuhan angklung oleh UNESCO di Jakarta, Senin (22/11/10) malam.

Selain memajang warisan budaya bangsa, sambung Menbudpar, juga dipajang duplikat sertifikat dari UNESCO. Sehingga tamu asing yang menginap di hotel itu, akan menjadi tahu, sadar dan paham bahwa wayang, keris, batik dan angklung asli dari Indonesia.

Dikatakan penetapan empat warisan budaya masuk dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia, merupakan kebagaan bagi Indonesia. Juga, jangan sampai ada negara tetangga yang merasa wayang, keris, baik dan angklung adalah diakui-akui sebagai miliknya.

“Silahkan masyarakat dunia memakai atau memainkan alat musik tradisional nusantara, namun jangan seenaknya mengakui sebagai bagian dari warisan budayanya. Karenanya, jangan sampai wrisan budaya Indonesia lainnya diakui negara lain, kita sudah daftarkan ratusan warisan budaya lainnya seperti Tari Saman dari Aceh, Tari Baris Gede dari Bali dan lainnya,” kata menteri.

Menbudpar mengemukakan sidang ke-5 Komite Antar-Pemerintah tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Nairobi, Kenya pada 15-19 November 2010 menghasilkan tiga keputusan penting bagi Indonesia. Pertama, UNESCO menetapkan Angklung Indonesia masuk dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.

Kedua, menyepakati untuk memberikan akreditasi kepada Asosiasi Tradisi Lisan (Oral Tradition Association) Indonesia sebagai organisasi non-pemerintah (NGO). Dengan status akreditasi, Asosiasi Tradisi Lisan dari Indonesia dapat berpartisipasi dalam menyusun rekomendasi apabila diminta oleh Komite.

Ketiga, Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah untuk sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda yang menurut rencana di Bali pada 2011.

“Dengan diakuinya Angklung sebagai warisan budaya dunia, menjadikan generasi muda semakin tertarik untuk belajar dan memainkan Angklung di berbagai institusi pendidikan di Indonesia dan luar negeri. Semua ini akan mendorong pelestarian dan promosi warisan budaya angklung serta mendukung pembangunan karakter bangsa,” jelasnya.Suk/Kbc