Advertisement

Surabaya, Lensa Indonesia- Perkembangan gaya hidup yang kian modern tak mempengaruhi minat calon pasangan mempelai untuk menikah dengan adat Jawa. Meski banyak pasangan yang menikah ala tata cara Barat, namun pernikahan dengan adat Jawa tetap tinggi peminatnya.

Terbukti banyak calon pasangan mempelai yang menggunakan jasa wedding organizer untuk menggelar pernikahan dengan adat Jawa secara lengkap yang dipungkasi dengan resepsi di hotel berbintang. Ini dilakukan agar mereka tak repot mempersiapkan semuanya sehingga jadi ribet dan mengganggu kesiapan mental dalam menyongsong hidup baru.

Hal ini direspon Magda Salon yang memfokuskan pada penyediaan jasa penyelenggaraan pernikahan dengan menggandeng Hotel Bumi Surabaya. Kedua pihak ini menawarkan layanan Paket Pernikahan Adat Jawa Loro Blonyo.

Humas Bumi Surabaya, Prima Soemarso, mengatakan pihaknya melihat pasar pernikahan dengan adat Jawa akan tumbuh pada 2011, mengingat banyak pasangan muda yang menghendaki pernikahan yang simple, lengkap, agung dan berkelas.

Ia menjelaskan paket yang ditawarkan dinamai Loro Blonyo karena merupakan simbol harapan baru. Loro Blonyo adalah nama untuk sepasang patung lelaki dan perempuan yang biasanya menghiasi rumah kaum priyayi Jawa pada zaman dulu.

“Loro Blonyo dipercaya bisa membawa keberuntungan dan membuat kehidupan rumah tangga jadi harmonis sesuai dengan tujuan pernikahan. Dipercaya atau tidak, Loro Blonyo mampu menebarkan sugesti positif bagi pemiliknya,” ujarnya pada Rabu (15/12).

Patung sosok perempuan dalam Loro Blonyo melambangkan Dewi Sri yang merupakan dewi kesuburan dan kemakmuran, sedangkan patung sosok lelaki melambangkan Dewa Wisnu. Menurut cacatan sejarah, Loro Blonyo telah ada sejak zaman Kerajaan Mataran yang dipimpin Sultan Agung pada 1476. Perwujudan Hinduisme ini kemudian dimodifikasi agar lebih universal dari Dewi Sri dan Dewa Wisnu menjadi patung sepasang pengantin.

Patung Loro Blonyo biasanya diletakkan di bagian tengah rumah yaitu bagian yang dianggap sebagai wilayah privasi suami istri. Namun kemudian kedua patung ini menjadi representasi si pemilik rumah.

Prima mengatakan, paket pernikahan tersebut menawarkan konsep one stop service. Mulai dari busana resepsi dan tata rias untuk kedua mempelai, orang tua mereka dan penerima tamu. Juga dekorasi pelaminan berupa gebyog, bunga segar di semua sisi, janur pintu masuk dan penjor serta taman yang dilengkapi air mancur.Tak ketinggalan cucuk lampah, MC berbahasa Jawa, tari-tarian, hiburan karawitan dan campur sari. Tak kalah penting hidangan bagi para tamu.

Menurut Magdalena Hartanto, penata rias pengantin tradisional dan pemilik Magda Salon, paket ini dikemas untuk memenuhi banyaknya permintaan layanan tersebut di Surabaya dan kota-kota besar lain yang menghendari tata cara tradisional yang simple namun terkesan agung.
Magdalena mengaku menggeluti jasa penyelenggaraan pernikahan sejak 1986. Semula ia menyediakan layanan pernikahan secara Barat, namun kemudian memfokuskan pada adat Jawa, Sunda dan muslim.

“Saya menangani layanan pernikahan tradisional yang lengkap dengan ritualnya karena menurut saya pernikahan secara tradisional itu sakral meski ribet. Kalau merias pengantin Barat, mereka yang datang ke salon. Tapi kalau merias pengantin Jawa, saya yang datang ke rumah mereka,” ujar wanita cantik asal Jember ini.

Magda memaparkan tren busana dan tata rias mempelai wanita pada 2011. Menurut ia, kebayanya mengalami modifikasi dengan tata rias yang natural, segar dan cerah serta tegas supaya terkesan glamor. Untuk paes (hiasan hitam di kening mempelai wanita) dalam adat Solo bentuknya bulat, sedangkan dalam adat Jogja bentuknya lancip.

“Saya ingin pengantin wanita tampak cantik dan anggun, sedangkan pengantin pria gagah dan berwibawa di hari istimewa mereka,” pungkasnya.(lia)