REDAKSI, Licom: Di tengah hiruk pikuk reformasi negara-negara Uni-Arab dan dinamika politik di tanah air, Sholihin Hidayat (pakar redaksi lensaindonesia.com) dan Ferry Ismirzah (kontributor lensaindonesia.com) menunaikan ibadah umroh ke tanah suci, makkah. Berikut ini Sholihin Hidayat, yang mantan pemred Jawa Pos mengawali berbagirefleksi di tanah suci ketika meninggalkan tanah air, Minggu, 24 April 2004.   

———————————————————————————————————————————

Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji karena Allah semata, tanpa disertai dengan perbuatan keji dan perbuatan maksiat, maka dia akan kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya.
— sabda Nabi Muhammad SAW

Dalam suatu majelis, Syekh Abdul Qadir Al Jailani bercerita, ’’Seseorang yang baru pulang melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci menemuiku dan aku katakan kepadanya; bertobatlah kepada Allah SWT.’’
Tentu saja lelaki itu kaget bukan kepalang dan buru-buru menjawab, ’’Saya baru kan pulang dari ibadah haji.’’

Orang tersebut berpikir, setelah melaksanakan ibadah haji, tentu dia mendapat berbagai fasilitas khusus dari Allah. Antara lain, seperti disabdakan Nabi Muhammad SAW bahwa siapa saja yang menunaikan iabadah haji akan kembali fitrah, seperti bayi yang baru saja dilahirkan oleh ibunya.

Logika kita pasti berjalan bahwa bayi yang fitri, secara otomatis tidak menyandang noda dan dosa. Seorang yang baru dilahirkan, ibarat kertas putih yang belum ditulisi atau digores oleh suatu apa pun. Bahkan, dalam hadits lain disebutkan bahwa haji, tidak ada balasan lain kecuali sorga.

Karena klaim manusia seperti itu, Syekh Abdul Qadir Al Jailani bertanya kepada salah seorang jamaahnya yang baru saja menunaikan rukun Islam kelima. Tampaknya, orang ini merasa telah kembali menjadi bayi yang fitri dan mendapat fasilitas sorga.

Benarkah demikian? Allah Maha Rahman Rahim, mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang diberi fasilitas khusus itu. Tapi, Syekh mengingatkan, ’’Aku tahu itu. Bisa saja di sana ia berzina (zina mata, telinga, mulut, tangan, tapi bukan berzina dengan farj-nya), fasiq, dan fujur (berbuat dosa), tetapi kemudian dia tidak segera bertobat.’’

Zina memang bisa terjadi di mana-mana dan kapan saja. Zina bisa dilakukan siapa saja dan oleh anggota badan yang mana saja. Selama kita berada di Tanah Suci, bukan berarti kita juga selalu dalam kondisi suci dan tidak berbuat maksiat sama sekali. Di Tanah Suci pun, orang bisa menambah tumpukan dosa. Begitu juga sebaliknya, di Tanah Suci, orang bisa menyucikan diri dari berbagai dosa.

Saat berada di Tanah Suci, mampukan kita menahan segala godaan dan memenjarakan hawa nafsu kita. Mata kita, kadang masih jelalatan mencari pemandangan yang indah dan menawan, meski itu bertentangan dengan syariat; telinga tak bisa ditutup rapat sehingga mendengarkan apa saja yang membuat kita jauh dari Allah, mulut dibiarkan nerocos mengumbar segala kata, walau kadang menyakitkan orang lain.

Begitu juga tangan dan kaki, terus bergerak ke mana saja menuruti keinginan. Hati kita masih menyimpan dendam, hasud, dengki, dan segala macam penyakit. Meski semuanya telah dicuci bersih selama menunaikan ibadah haji, namun siapa yang berani menjamin bahwa kita tak akan berbuat maksiat lagi?

Karena itu, Syekh menasihatkan agar kita bertobat dan terus bertobat, meski baru saja pulang dari Tanah Suci. Kemudian Syekh melanjutkan, ketika lelaki tersebut meninggal dunia, pada saat menyalatinya, Syekh melihat seolah-olah lelaki itu keluar dari kincir dan bergelayut pada bagian belakang bajunya. Maka, Syekh pun berkata, ’’Tentang inilah aku peringatkan dirimu dahulu’’ (baca: Syekh Abdul Qadir Al Jailani, Al Fath Ar-Robbani Wal Faydh Ar-Rahmani).

Peringatan Syekh bukan tanpa alasan. Banyak di antara kita yang menganggap bahwa gelar haji menjadi jaminan bahwa dia sudah masuk lapisan elite masyarakat yang selalu dihormati dan dihargai.
Dalam tradisi Jawa, haji masuk strata tertinggi kalangan Islam santri.

Sebab, selain dia kaya dan mampu melaksanakan rukun Islam yang kelima, pak haji dianggap sudah ’’sempurna’’ keislamannya dan cukup tahu tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan syariat Islam. Menjadi haji dijamin masuk sorga.

Anggapan dan klaim seperti itulah yang kemudian melahirkan sebuah nasihat yang sangat agung dari Syekh Abdul Qadir. Janganlah kita berbangga bahwa selepas pulang haji kita tak punya dosa dan sudah tidak berbuat maksiat lagi. Tobat harus dilakukan sepanjang waktu, selama nafas dikandung badan.
Tak ada waktu jeda bagi kita untuk tidak minta ampun kepada Allah. Sebab, kata nabi, orang yang baik adalah bukan mereka yang tidak pernah berbuat dosa, melainkan orang yang baik adalah mereka yang berbuat salah kemudian langsung minta maaf (bertobat).

Kita yang diberi kelebihan dan kemuliaan oleh Allah untuk memenuhi panggilan-Nya ke Tanah Suci dan sowan menemui Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW, harus mampu menangkap getar-getar cinta Sang Kekasih. Dengan khusyu’ dan khudhu’ kita melaksanakan segala perintah tanpa kata membantah.
Keikhlasan dan kebersihan hati, akan mampu mengantar kita menjadi manusia paripurna, yang akan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan tanpa pamrih. Panggilan Sang Kekasih di Tanah Suci mampu menjadikan kita manusia yang penuh kasih sayang dan rahmatan lil ’alamin.

Mudah-mudahan, i’tibar dan imtitsal tulang unta yang tak mampu dibakar oleh api dalam tungku (40 Nasihat Langit, 2007). Sebagaimana dituturkan An Nahrawani, ibadah ini hendaknya menjadikan kita sebagai orang yang menyintai Allah dengan setulus hati.

Dalam sebuah cerita disebutkan, suatu kali, seorang tukang kayu bakar memasukkan sejumlah tulang unta ke dalam tungku api, namun tiba-tiba tulang itu keluar kembali. Hal itu diulanginya sampai tiga kali. Untuk kali ketiga, tulang-tulang itu malah keluar dengan keras hingga mengenai dada si tukang kayu.
’’Celaka kamu! Ini adalah tulang unta yang telah melewati Makkah sebanyak 10 kali. Bagaimana mungkin kamu akan membakarnya dengan api?’’ Demikian nasihat An Nahrawani.

Mudah-mudahan, kita yang pernah pergi ke Tanah Suci dan melaksanakan ibadah haji atau ibadah umroh, diberi rahmat oleh Allah SWT dan tulang-belulang kita tak akan mampu dibakar oleh api neraka. Doa dan munajat kita yang tulus di depan Ka’bah, mudah-mudahan juga tidak terlewatkan dalam catatan emas malaikat, sehingga mampu mengantarkan kita di hari perjumpaan dengan Sang Kekasih. Amin Ya Robbal Alamin. LI-04