MADINAH, LIcom: Alhamdulillah. Tiba di Madinah, batin ini terasa hening. Damai. Penuh rasa syukur diizinkan mendekat ke tanah Baitullah. Tafakur. Begitu perjalanan umroh menginjakkan kaki di area Masjid Nabawi. Rasa syukur tak terkira diizinkan-Nya sehari semalam menuangkan serangkaian ibadah kerinduan atas kasih-Nya di masjid dan tempat-tempat suci Nabi Muhammad SAW ini.

Di Rhaudha (Taman Syurga) –kiri Selatan Majid Nabawi–  tempat yang menjadi tujuan bagi seluruh umat Islam yang melaksanakan haji maupun umroh,   para jamaah umroh berdoa khusuk.  Spontan, teringat cerita tetang  Presiden SBY dan isteri, yang tahun 2009 pernah bersimpuh dan berdoa di sini, sambil menghadap Mihrab Nabi.

Ternyata, presiden Indonesia bukan cuma SBY, yang menghambahkan diri di hadapan Sang Khaliq di tempat suci ini. Seluruh presiden dari tanah air yang berpenduduk muslim terbesar di dunia bernama NKRI, juga pernah memanjatkan doa di Rhaudha ini.

Presiden pertama Soekarno, misalnya, meski tidak berbekas, namun tercatat sebagai presiden Indonesia pertama yang datang ke sini. Tahun 1986, Soeharto juga pernah mengetengadahkan tangan ke Sang Maha Akbar, di tempat yang berkarpet putih kehijau-hijuan ini.

Bahkan Gus Dur, saat tengah mengawali biduk kepemimpinannya jadi presiden RI ke 4, tahun 2001, beserta rombongan staf menteri saat itu sempat pula mengadakan istighotsah di altar dekat makam Rasulllah.

Hanya Megawati, yang bermuhibah di Rhaudha saat menjabat Wapres. Ia didampingi suaminya, Taufiq Kiemas juga memanjatkan doa di tempat sini.

Di sini, bukti kebesaran Allah menakdirkan ketaklikan seluruh presiden negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dari awal kemerdekaan NKRI sampai Presiden SBY jauh-jauh dari tanah air datang bersimpuh di sini.  Apa rahasia di balik cerita sejarah kepemimpinan NKRI diizinkan-Nya berdoa di taman surge itu, hanya Allah SWT yang mengetahui.

Rhaudhah (taman)  berdekatan dengan rumah dan Masjid Nabi Muhammad, Masjid Nabawi.  Rasulullah akan selalu membalas salam dan menyapa kita ketika kita masuk di tempat ini, dan doa kita akan dikabulkan  Allah.

Rhaudhah terletak di bagian kiri Selatan masjid, sekitar 5 meter di belakang Mihrab imam sholat fardlu Masjid Nabawi. Dan, sebelah kanan makam Rasululah (kalau jamaah menghadap ke Selatan), tampak Mihrab Nabi (abad 6 M, Rasullah selalu menggunakan sebagai imam, sekarang kalau salat Jumat masih dipakai). Selanjutnya, ada Mimbar Utama, dan tangga menuju tempat Muadzin.

Adapun urutan makam di sini adalah, di tempat paling depan, Nabi Muhammad SAW dengan wajah menghadap kiblat. Di belakangnya,  Abu Bakar dan selanjutnya Umar Ibnu Khattab.

Qurais Shihab ketika membimbing  Megawati –saat Wapres—berserta  Taufiq Kiemas ziarah di tempat suci ini,  sempat melakukan tiga hal. Yakni, pada makam yang dikelilingi kaligrafi ayat Al-Quran,  ia mengucap salam  menyapa Nabi dan sahabatnya, lalu mengucapkan syahadat,  dan berterima kasih atas jasa  Rasulullah dalam menyiarkan Islam. Khusus kepada kedua sahabat, ucapan terima kasih diberikan untuk menghormati  jasa mereka  membantu Nabi dalam penyiaran Islam.

Ketika berada di Rhaudha,  hamparan karpet berwarna putih kehijau-hijauan, memang berlainan dengan warna karpet merah tua yang terhampar di Masjid Nabawi. Tentu, ini tersirat makna tersendiri. Rhaudha senantiasa menjadi rebutan umat muslim di dunia yang datang  ke tanah suci.

Tadi malam, sekitar Pukul 21.00 (waktu Indonesia), suasana jamaah dari segala penjuru dunia yang datang umroh, terlihat cukup ramai. Meski jumlahnya tidak sebanding dengan jamaah musim haji, namun suasana kekhusukkan saat berada di Rhaudha maupun Masjid Nabawi sepertinya tidak banyak bedah.

Berada di tempat ini, memang, seolah terlupakan semua hiruk pikuk dunia. Gejolak politik yang masih melanda negara-negara Uni Arab pun, termasuk suara dentuman bom di Libya, terkesan tidak berpengaruh sama sekali di tempat suci ini.

Bahkan, jamaah umroh yang baru datang dari Indonesia pun seperti begitu mudah melupakan bahwa belakangan, di tanah air bermunculan teror bom buku, bom bunuh diri, sampai kabar anak-anak muda yang kabur dari rumah karena bergabung dengan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan diri gerakan NII (Negara Isalam Indonesia).

Begitulah. Suasana damai, hening dan tenang di hati cukup terasa selama berada di Rhaudha dan Masjid Nabawi. Antar umat muslim tidak saling membedakan baik asal negara  dan mazab memang sangat terasa. Juga di kawasan makam Rasulullah ini. Kerinduan akan cinta kasih dan ridlo Allah, serta ampunan-Nya berkecemuk dalam batin ini.

Di sekitar makam, masih dalam kawasan Rhaudha, terdapat juga makam dua sahabatnya, Abu Bakar Ash Sidiq dan Umar bin Khattab. Makam Rasulullah itu juga adalah tempat Rasulullah wafat.

Di makam Rasulullah ini, tidak semua orang dapat masuk. Jemaah yang berziarah, seperti biasanya musim haji dan umroh hanya bisa melihat makam itu dari luar dan harus pula berdesak-desakan.

Dalam sejarah, presiden Indonesia yang dipersilakan Kerajaan Arab Saudi untuk masuk ke dalam makam Rasulullah ini, ternyata baru Presiden SBY.

Kendati pun itu keputusan Kerajaan Arab Saudi, tentu semua atas kehendak Allah. Termasuk pula, peristiwa Wakil Presiden M Yusuf Kallah yang pernah kebetulan bertemu dengan manta Presiden BJ Habibie  di samping makam Nabi Muhammad SAW ini, masih kawasan kompleks Masjid Nabawi. Apa yang tersirat di balik semua itu, hanya Allah yang tahu.

Kota Madinah sejak pagi kemarin hingga kembali pagi, suasana kemuliaan masih terjaga. Beserta jamaah umroh dari Indonesia,  perjalanan umroh ini diawali mengunjungi Masjid Aqubah atau yang dikenal Masjid Kiblatin di Yastrib ditengah kota Madinah.  Masjid ini memiliki nilai sejarah penting bagi umat Islam. Lantaran, masjid ini dibangun Rasulullah pada abad 7. Dan, di area tanah itu awalnya terdapa bangunan rumah sahabat-sahabat Nabi Muhammad  SAW.

Di Masjid Aqubah ini, jamaah umroh meluangkan waktu untuk sholat Sunnah dan Dhuha. Dari sini,  kemudian mengunjungi Jabbal Uhud.  Bukit (jabbal) ini mengingatkan pada sejarah tonggak kemenangan pasukan Islam ketika perang menghadapi kaum kafir Qurays. Dalam perang yang tidak seimbang –700 tentara Islam melawan 3000 personel Qurays yang didukung kaum Yahudi—itu, pasukan Islam dikomando langsung  Nabi Muhammad SAW, dapat  mengalahkan kaum Qurays.

Kemenangan dalam perang Uhud ini sahabat Rasulullah; Hamzah Bin Abd Mutholib  mati syahid. Juga beberapa  syuhada lainnnya. Sebagai tanda atas kepahlawanan Hamzah, dimakamkan 100 meter di seberang Jabbal Uhud. Makam ini juga menjadi tempat yang sering diziarahi para jamaah haji maupun imroh di samping kuburan Baqi. * LI-04