“Subhanallah.., suasananya seperti musim haji,” gumam Sholihin Hidayat. Benar, tidak hanya sahabat saya – belakangan, akrab dipanggil Kohin– ini saja yang tercenung menyaksikan –dari kejauhan– lautan jamaah berpakaian ihram di altar Masjidil Harram. Saya sendiri, mungkin juga jamaah peserta rombongan umroh yang beserta saya,  yang pernah menunaikan ibadah haji, merasakan hal yang sama. 

Matahari  beringsut ke Barat. Saya dan rombongan terus melangkahkan kaki  meninggalkan Hotel  Yarmuuk, tempat menginap di kawasan  Misfalah, sekitar 200 meter dari Masjidil Harram. Tatapan mata ke arah lautan manusia, seperti  mempercepat langkah kaki untuk semakin mendekat ke pusaran Masjidil Harram.

Takjub, mengharu biru, seolah menggelora dalam batin. Lautan manusia  –berpakaian ihram—warna putih, keindahannnya sungguh sulit terukur.  Belum lagi,  view timpahan cahaya  langit  benderang  menjelang sore, Kamis (28/4/2011). Mafhum, siapa pun yang ber-muhibbah di tanah suci, senantiasa mengaku ingin mengulang  dan terulang. 

Saya dan Kohin benar-benar termangu menyaksikan di sana-sini  -di altar Masjidil Harram– umat muslim yang datang dari segala penjuru dunia, sepertinya tak lagi peduli  masalah beda warna kulit, beda raut muka , maupun perbedaan postur.  Rasanya, sang Khaliq benar-benar mempersatukan umat muslim dari segala penjuru dunia, seperti  Asia, Afrika, Amerika Serikat,  termasuk dari Eropa. Karenanya, spontan terbersit keheranan yang cukup mendalam, akan ingatan peristiwa di tanah air baru-baru ini, ada bom bunuh diri dalam masjid saat berjamaah shalat Jumat di Polres Cirebon, Jawa Barat.

“Subhannallah… Allahu Akbar,” begitu saya dan Kohin spontan berucap bareng. Air mata pun terus meleleh setiap menatap Ka’bah, dikitari lautan umat muslim yang  bergerak  melakukan tawaf.

Andai  warga dunia ini bergerak damai, dan senantiasa mengikuti perintah illahi seperti jamaah umroh yang tawaf mengitari Ka’bah sebanyak 7 kali, barangkali perang antar saudara di Libya, gejolak di Mesir, Siria, maupun  carut marut politik duniawi di negara-negara Uni Arab tak akan pernah terjadi, mungkin.

Kali ini, saya memandangi Ka’bah sebagai arah kiblat umat Islam seluruh dunia saat menjalan ibadah salat, seperti ada dalam batin. Masjidil Harram sebagai pusat kota Makkah, membuktikan ke-Mahabenaran yang tersirat maupun tersurat kesucian dan keagungan Ka’bah.

Kedamaian dan keagungan suasana Masjidil Harram menjelang sore itu, seolah menyadarkan bahwa di tengah dinamika dunia yang belakangan dilanda bencana alam maupun pergolakan umat, telah membuka mata hati akan rahasia yang tersembunyi di balik pesan sunatullah.

Benar. Masjidil Harram yang mula-mula dibangun secara permanen oleh Sayyidina Umar bin Al Khattab pada tahun 638 M, sampai abad 21 ini, terkesan seperti  tetap bergeming menghadapi dinamika dunia. Pembaruan dan perluasan Masjidl Harram dari masa-ke masa, yang  diprakarsai raja-raja Islam,  merupakan kehendak illahi hingga umat muslim yang beribada umroh maupun haji memperoleh nikmat-Nya, kemudahan dan kenyamanan.  Memang, pembangunan besar-besaran dalam sejarahnya, dilakukan oleh  Raja Fahd bin Abdul Aziz yang bergelar  “Pelayan Dua Tanah Haram Makkah dan Madinah”.

Sebutan  Tanah Haram karena Tanah ini diharamkan bagi umat lain, selain umat Muslim. Saat ini luas Masjid Al Haram 328.000 meter persegi dan dapat menampung 730.000 jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah.

Seperti diiketahui, keistimewaan Masjidil Haram, cukup banyak sekali. Di antaranya, Shalat di masjid ini lebih utama daripada shalat seratus ribu kali di masjid lain. Begitupun berdzikir, berdoa, bersedekah dan beramal baik lainnya.

Alhamdulillah, saya dan Kohin diberi kemudahan untuk menjalankan sholat Ashar di masjid yang melingkari Ka’bah, dan  memiliki 4 pintu utama, dan 45 pintu biasa itu. Usai sholat fardlu  dan menjalankan perintah keistimewaan bersujud di masjid ini, selanjutnya kami melangkah melaksanakan perintah tawaf mengitari Ka’bah sebanyak 7 kali. Lautan jamaah umroh dari berbagai bangsa tak kunjung surut.    

Selanjutnya, perjalanan umroh berlanjut ke melaksanakan Sa’i.  Ibadah ini merupakan salah satu rukun umroh maupun haji yang dilakukan dengan berjalan kaki bolak-balik  7 kali dari Bukit Safa ke Bukit Marwah, dan sebaliknya. Kedua bukit ini sekarang sudah dihubungkan oleh bangunan panjang berlantai dua. Dengan lebar 20 meter. Jalur sa’i  dibagi atas empat jalur, masing-masing dua jalur untuk pejalan kaki dan dua jalur untuk orang-orang sakit yang harus di dorong dengan kursi roda.

Perjalanan Sa’i  terasa membahagiakan. Udara AC dan kipas angin yang merupakan fasilitas di sana-sini, menghembuskan angin dingin.  Andai menahan haus, bisa melangkah ke pinggir jalur sa’i, sambil minum air Zam-zam yang tersedia di banyak tempat.

Jarak perjalanan Sa’i untuk satu kali jalan adalah 405 meter. Jadi tujuh kali perjalanan antara kedua bukit ini berarti sejauh 7 x 2 (bolak balik) x 405 m = 2.835 meter.

Ibadah Sa’i ini merupakan ibadah  menapak tilas pengalaman serta penderitaan yang di alami Siti Hajar. Karenanya, agar  lebih khidmat dan khusuk,  para jama’ah dianjurkan membayangkan derita dan kesulitan yang dialami Siti Hajar ketika mencarikan air untuk anaknya Ismail yang ditinggal sang ayah Nabi Ibrahim yang mendapat perintah dari Allah.

Lagi-lagi saya dan Kohin berucap Alhamdulillah, karena ibadah umrah kali ini, sejak awal hingga menjalankan Tahallul dapat berjalan dengan lancar. Tahallul merupakan perbuatan yang menandai keluar dari keadaan ihrom ke keadaan halal, dengan melaksanakan antara lain; bagi jamaah lelaki dengan memotong rambut kepala, atau bercukur.  Untuk wanita hanya memotong rambut kepala.

Ibnu Abbas berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tiada keharusan bercukur bagi perempuan. Perempuan hanya harus memotong (rambut kepala). (H.R. Abu Dawud, Daraquthni dan Thabrani)

Dengan tahallul itu orang yang tadinya berihrom diperkenankan mengerjakan hal-hal yang terlarang karena ihrom, kecuali bersetubuh sampai ia selesai mengerjakan thowaf Ifadloh.

Ketika turun dari bukit Marwah, selesai melaksanakan ibadah sa’i, saya dan Kohin beserta rombongan umroh dari Jakarta tidak langsung kembali ke hotel. Matahari kian tenggelam ke Barat. Lima menit kemudian, terdengar lantunan adzan Magrib. Lagi-lagi Alhamdulillah, kami memperoleh ‘kemudahan’-Nya, mendapatkan tempat sholat berjamaah di area Multajam (tempat mutajabah) di antara yang ada di Masjidil Harram.  *LI-04