JAKARTA, LIcom: Jaringan Negara Islam Indonesia (NII) ternyata bukan kelompok sembarangan. Diduga, kelompok ini memiliki hubungan dengan pemilik Bank Century Robert Tantular.

Pemimpin Pondok Pesantren Al-Zaitun Panji Gumilang yang disebut-sebut berafiliasi dengan NII diduga juga pernah menanamkan investasinya sebesar Rp 250 miliar di bank bermasalah tersebut.

Hal itu diungkapkan peneliti sejarah Darul Islam/NII, Shilahudin di Warung Daun Cikini, Sabtu (30/4/2011). “Dana itu dikonversi dari emas 2 ton. Dia (NII) itu punya program Harikatul Khirot. Anggotanya wajib menginvestasikan emas berapa banyak per bulan, sampai ada yang jual rumah. Terkumpullah emas 2 ton dikonversi uang sampai Rp 250 miliar. Kemudian dana diinvestasikan di Bank Century,” ungkap Sholahudin.

Sholahudin mencatat, kedekatan Panji dan Robert dimulai dari aktivitas Panji yang sering dakwah bolak-balik ke Sabah, Malaysia. Menurut Sholahudin, setiap pulang dari Sabah, Panji menukarkan mata uang asingnya, baik ringgit maupun dollar di tempat penukaran uang Bank CIC.

“Setiap pulang dari Sabah, dia sering menukar duit di money changer CIC yang dikelola oleh tantenya Robert Tantular. Mungkin kedekatannya dari situ,” ungkap Sholahudin.

Setelah Bank Century terkena masalah, lanjut Sholahudin, Panji dan Al-Zaitun menelan pil pahit. Kedekatan Panji dan Robert sendiri sudah diketahui banyak pihak, terutama politisi-politisi di Senayan, bahkan oleh mereka yang sering berkomentar soal Century.

Sholahudin mengaku tak tahu jumlah aset Al-Zaitun saat ini. Namun jika dilihat dari lahan dan bangunan yang dimiliki saat ini dengan luas sekitar 200 ha, ditaksir nilainya mencapai Rp 20-30 miliar. Plus sekolah dan asrama, nilainya diperkirakan mencapai ratusan miliar.

Sementara menurut Ken Setiawan dari NII Crisis Center dalam sebuah seminar bertajuk “Mewaspadai Gerakan NII di Kampus dan Masyarakat”, yang berlangsung di Kampus Unpad Jatinangor, Sumedang, mengatakan, gerakan NII yang awalnya diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo itu memang mengalami pasang surut.

“Pascapenawanan dan eksekusi Kartosuwiryo 1962 lalu, NII diwarnai dengan munculnya fraksi-fraksi baru. Pelencengan akidah di NII KW IX mulai terjadi saat Abu Toto menjadi imam (1996),” katanya.

Dia berpendapat, Tauhid RMU, yang merupakan singkatan dari rububiyah (hukum), mulkiyah (tempat), uluhiyah (umat), merupakan konsep negara bagi NII, orang-orang di luar NII dianggap kafir, zalim, dan fasik.

Bentuk-bentuk penyelewengan akidah yang terjadi di dalam NII adalah umatnya menafsirkan Al Quran sesuai dengan kepentingan organisasi. “Mereka membagi shalat menjadi dua, yakni salat ritual dan salat universal. Negara posisinya dianggap sama dengan Allah dan para pemimpinnya sebagai rasul dan mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi target,” ujar dia.

Bahkan, kata dia, para penganut NII melaksanakan haji ke ibu kota negara mereka, yakni Indramayu. “Selain persoalan penyelewengan akidah, perkembangan NII KW IX juga ditandai dengan pengerukan dana besar-besaran. Organisasi yang mayoritas anggotanya mahasiswa ini memiliki setoran tiap bulan untuk infak sebesar Rp14 miliar,” tandasnya.km/LI-07