Makkah, Licom; Jumat siang (29/4/2011), langit di atas Masjidil Harram terlihat cerah. Menjelang waktu sholat Jumat, umat muslim Saudi Arabia sudah merangsek di area masjid. Suasana pelataran Masjidil Harram benar-benar meluber. Warga Saudia menyatu dengan jamaah umroh yang datang dari segala penjuru dunia.

Rupanya, Jumat yg merupakan hari libur bagi warga Saudi Arabia, sudah terbiasa dijadikan momentum oleh khususnya keluarga di kota Makkah dan sekitarnya untuk rekreasi spiritual. Pemandangan hamparan permadani masjid, nyaris tak ada yang lengang jamaah.

Sejak Kamis malam (28/4/2011), arus jamaah dari kota-kota di Saudi Arabia terlihat luar biasa padat. Bapak-ibu dan anak berdatangan. Ada yang datang seorang diri, namun banyak pula yang hadir berombongan.

Bahkan, usai salat Subuh, juga banyak penduduk Makkah yang berombongan bersama anggota keluarganya memasuki area Masjidil Harram. Di sana-sini, warga terlihat membawa bekal sarapan pagi. Mereka makan bersama sambil duduk-duduk.

Spintas, spontan muncul sedikit harapan. Andai saja Masjid Istiqal Jakarta maupun Masjid Akbar Surabaya, yang merupakan Masjid terbesar di Indonesia Timur mengalami situasi yang sama pada hari-hari libur, betapa semakin indahnya negeriku yang berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Tidak sebaliknya, di Masjid Akbar Surabaya, misalnya, pada hari libur seperti Minggu pagi, justru area sekeliling masjid dipadati warga pengunjug pasar ‘kaget’ alias pasar dadakan mirip suasana pasar malam pada pagi hingga siang hari. Ironi lagi, tidak sedikit pun mengesankan suasana rekreasi relijius.

Ketika matahari yang menerikan suasana Masjidil Harram siang itu, mengantar waktu menginjak pukul 10.00 (waktu Saudi Arabia), jamaah yang sebelumnya berjubel di area beranda, berebut merangsek ke dalam masjid,

Mereka saling mencari tempat terdepan mendekati Ka’bah. Satu jam menjelang Dzuhur, jubelan jamaah sudah tak terbendung. Mereka berdesak-desakan masuk. Khotib Jumat, kali ini, cukup istimewa. Yakni, Syekh Abdurrahman Sudaisy. Dia adalah juga Imam besar masjid Haromain, Makkatul Mukarromah dan  Masjid Nabi di Madinatul Munawwaroh.

Memang, nama Sudaisy sudah sangat familier di telinga umat Islam Indonesia. Suaranya sangat bagus dalam melantunkan ayat-ayat Alquran. Banyak yang menyukai suaranya yg merdu dan penuh power. Dalam khotbahnya, secara khusus dia mengupas pentingnya persatuan dan kesatuan.

Laa Islaama illa biljamaah (tidak ada Islam kecuali dengan persatuan). Bahkan, secara panjang lebar dia mengupas bahwa persatuan dibutuhkan dalam segala bidang kehidupan dan ruang. Tanpa persatuan, umat Islam akan terpuruk. “Dalam perceraian juga dibutuhkan persatuan,” tegasnya.

Dalam kondisi umat Islam tercerai berai, persatuan sangat dibutuhkan untuk membangun kekuatan dan kebersamaan. Sehingga, pada saatnya persatuan bisa dirajut di atas puing2 perpecahan. Sayangnya, Imam Sudaisy tidak menyinggung perpecahan di Negara-negara Arab, belakangan ini. Apalagi, menyinggung dinamika umat beragama Islam di Negara berpenduduk muslim terbesar dunia, yakni Indonesia,

Bahkan, kini Negara-negara Arab dalam proses dihancurkan oleh negara super power Amerika dan  konco-konconya. Nah, apakah persatuan bisa dirajut kembali di jazirah Arab dan Negara-negara Islam pada umumnya? Wallahu a’lam. *li-04