LENSAINDONESIA.COM: Riyani (34), seorang janda asal desa Sonoageng, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, nyaris jadi amuk massa Pasar Setono Betek, Kota Kediri, Sabtu (6/8/2011).

Pasalnya, pelaku kepergok mencuri uang milik pedagang pasar Setono Betek. Beruntung, petugas Polisi Masyarakat (Polmas) dari Polsek Kota Kediri dan keamanan datang tepat waktu. Sehingga pelaku cepat diamankan di kantor keamanan pasar.

Berdasarkan informasi dari para pedagang, Riyani melakukan pencurian di kios pracangan milik Sulaeman (45). Ibu satu anak yang dicerai suaminya itu menyelinap masuk saat Sulaeman dan istrinya, Harsiah (41) ketika tengah tertidur di kios.

Pelaku mengambil sebuah tas yang di dalamnya berisi uang tunai Rp 300 ribu. Setelah itu, dia pergi meninggalkan kios korban.

Harsiah terbangun. Dia merasakan ada seseorang yang masuk ke dalam kiosnya. Setelah itu Harsiah memeriksa barang miliknya. Dia terkejut tas miliknya yang berada di laci amblas. Kemudian dia bertanya kepada para pedagang lainnya. Ternyata, ada seorang perempuan baru saja keluar dari kiosnya.

” Saya membangunkan suami. Saya beritahu bahwa ada seorang wanita yang mengambil uang dan pergi ke arah selatan,” ujar Harsiah,

Lantas, Sulaiman mengejar perempuan itu. Akhirnya dia berhasil menangkapnya, sekitar jarak 50 meter dari kiosnya.

Pelaku sedang mampir di sebuah kios sambil memegangi tas dari anyaman plastik. Sulaiman langsung menggeledah isi tas pelaku. Dia menemukan tas miliknya yang di dalamnya terdapat uang tunai Rp 300 ribu.

Seketika itu, suasana pasar menjadi ramai. Para pedagang lainnya berdatangan. Mereka berniat menghakimi pelaku. Karena ketakutan, pelaku langsung menangis. Warga yang sebelumnya emosi, akhirnya mengurungkan niatnya.

Tetapi, beberapa anak kecil terus meneriaki pelaku maling. Anak-anak juga meminta agar pelaku digebuki.

Tidak lama berselang petugas keamanan pasar dan Anggota Polmas dari Polsek Kota Kediri Briptu Bambang datang. Petugas langsung mengamankan pelaku dan membawanya ke kantor keamanan.

Kepada petugas, pelaku mengakui perbuatannya. Lantas, petugas memanggil dan mempertemukan korban dengan pelaku. Harapannya kasusnya itu dapat diselesaikan secara damai yakni, dengan kekeluargaan.

“Korban tidak tega. Dia bersedia memberikan maaf, dan tidak melaporkan pelaku. Bahkan, pelaku juga langsung meminta maaf sambil mencium tangannya,” ujar Bambang di kantor keamanan.

Setelah dipertemukan sekitar 15 menit di kantor keamanan, akhirnya pelaku dibawa ke Mapolsek Kota Kediri. Petugas khawatir apabila pelaku tetap berada di area pasar menjadi sasaran amuk massa.

Ketika keluar dari kantor keamanan, pelaku berusaha dikonfirmasi. Tetapi wanita bertubuh kurus itu bungkam. Dia berada di samping petugas dan terus meneteskan air matanya.

Informasi yang diperoleh, niat pelaku mencuri uang Sulaiman secara spontan. Awalnya, pelaku datang bermaksud membeli terigu. Sebab, di rumahnya, pelaku juga membuka warung kopi kecil yang menyediakan mie dan nasi.

Saat berada di depan kios Sulaiman, pelaku melihat sebuah tas tergeletak. Sementara pemiliknya tengah tertidur, seketika itu niatnya untuk mencuri timbul. Akhirnya pelaku mengambil tas tersebut lalu pergi.

Usai dicerai suaminya, pelaku tinggal bersama satu orang anak yang duduk di bangku SMP. Dia mencari ekonomi sendiri dengan beban anak sekolah.

Petugas sempat menggeledah isi tas pelaku. Petugas mendapati sebuah Hand phone (HP) merk China yang sudah lama.

Isinya beberapa tagihan utang ke sejumlah bank titil. Sehingga petugas sangat iba melihat kondisi ekonomi pelaku.

” Saya yakin bahwa niat pelaku adalah spontan. Saya juga memastikan bahwa dia mencuri karena faktor ekonomi. Karena saya langsung membuka isi HP nya, berisi 13-15 pesan SMS (Short Message Service). Berisi tagiahan tagihan di bank sehingga jelas kalau pelaku memang bukan jaringan pencuri yang biasa melakukan targetnya di pasar,” pungkas Bambang.aka/LI-07