LENSAINDONESIA.COM: Aksi penembakan polisi terhadap Mark Duggan, Kamis lalu (4/8), memicu protes dari sementara kalangan. Dan, London pun tak ubahnya seperti zona perang.

Sebanyak dua puluh enam polisi dirawat di rumah sakit hari ini, Minggu (7/6) setelah kerusuhan yang meletus dua hari.

Scotland Yard mengatakan setidaknya salah seorang petugas menderita luka di kepala setelah pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di Tottenham, London Utara.

Bentrokan itu berawal saat 300 massa melempari petugas polisi dan tiga mobil yang sedang berpatroli dengan menggunakan bom molotov, di kawasan Tottenham, London, Inggris (Minggu, 7/8).

Selain melempari petugas dengan bom molotov ratusan masa ini juga membakar sebuah bus dan sejumlah bangunan yang ada di kawasan tersebut.

Massa awalnya secara damai berkumpul di depan kantor polisi setempat dan menuntut keadilan untuk kematian Mark Duggan. Namun situasi berubah menjadi kacau setelah dua mobil polisi yang berada 200 meter dari kumpulan masa diserang.

Para demonstran tersebut melempar beberapa bom molotov ke mobil polisi dan mengakibatkan mobil tersebut terbakar. Beruntung tidak ada petugas yang sedang berada di dalam mobil yang terbakar tersebut.

Sementara itu, kasus penembakan Mark Duggan kini sedang diselidiki oleh the Independent Police Complaints Commission  (IPPC).

IPPC, melalui komisionernya mengatakan bahwa pihaknya sedang mengumpulkan berbagai bukti yang diharapkan hasilnya bisa diumumkan dalam waktu dekat ini.

Sedangkan pemerintah kota London mengimbau warganya agar menghentikan aksi kekerasan, karena aksi kekerasan tidak akan membantu jalannya penyelidikan.

“Kekerasan dan penghancuran tidak akan membantu penyelidikan kasus ini dan kami meminta warga untuk menghormati hukum,” kata juru bicara pemerintah London, Boris Johnson, sebagaimana dikutip BBC (Minggu, 7/8).rol/mol/LI-07