Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
HEADLINE HEALTH

Promosi Doktor Theresia M.D. Kaunang di Fak. Kedokteran UI 

Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif (GPPH) merupakan suatu gangguan psikiatri pada anak yang paling sering terjadi. Angka kasusnya mencapai 30-40% dari kasus kesehatan mental anak yang dirujuk. GPPH ditandai dengan sulitnya memusatkan perhatian, perilaku hiperaktif dan impulsif. Efek dari GPPH cukup luas. Mulai dari mengganggu perkembangan anak, emosi, perilaku, tingkat akademik, hingga aspek psikososial. GPPH paling sering terjadi pada anak berusia 3-5 tahun dengan kronisitas dan risiko masalah perilaku berat pada usia sekolah. 76% gejala GPPH muncul pada usia anak prasekolah.

GPPH disebabkan karena interaksi kompleks antara sistem neuroanatomi, neurokimia dan genetik, terutama pada anak kembar. Dan pada penelitian lain, riwayat keluarga turut berkontribusi sebagai penyebab GPPH. Faktor lainnya seperti lingkungan, makanan, psikososial, riwayat ayah merokok, ibu merokok saat hamil turut berpengaruh. Anak dengan GPPH akan sulit melakukan regulasi diri yang seusianya.

Pemahaman yang optimal mengenai GPPH sejak anak usia dini diharapkan dapat diterapkan oleh semua pihak untuk mampu bekerja sama melakukan tatalaksana yang optimal terhadap anak GPPH sejak dini. Penanganan dini pada anak GPPH akan meminimalkan dampak negatif gangguan, kronisitas dan demoralisasi. Terdeteksinya GPPH memberi jaminan bagi anak GPPH pra sekolah untuk pemeriksaan yang lebih baik.

Berdasarkan kebutuhan pendeteksian dini terhadap GPPH tersebut, maka seorang spesialis kedokteran jiwa dari FKUI melakukan penelitian untuk menghasilkan alat ukur guna mendeteksi regulasi dini pada anak pra sekolah. Anak GPPH yang seringkali kurang memiliki kemampuan regulasi diri dirasa memerlukan sebuah alat ukur yang disebut Skala Penilaian Regulasi Diri Anak Prasekolah (SPRDAP). Dalam penelitian ini juga dikembangkan sebuah alat ukur mengenai model pengasuhan yang disebut Skala Penilaian Model Pengasuhan (SPMP). SPMP digunakan untuk mendeteksi model pengasuhan orangtua yang diterapkan pada anak GPPH.

Baca Juga:  Ngaku polisi, oknum wartawan pengedar ineks dituntut 15 tahun penjara

Penelitian kemudian dilakukan di Kelompok Bermain dan TK di Jakarta terhadap 1000 anak usia prasekolah (3-7 tahun) pada Maret-Juni 2009. Penelitian dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama penelitian diagnostik dengan alat ukur deteksi GPPH anak prasekolah yaitu Skala Penilaian GPPH Prasekolah Indonesia (SPGPI), Skala Penilaian Regulasi Diri Anak Prasekolah (SPRDAP) dan Skala Penilaian Model Pengasuhan (SPMP). Tahap kedua yaitu penelitian observasional potong lintang untuk menggambarkan kelompok yang diteliti dan melihat faktor-faktor yang berkorelasi dengan GPPH.

Di akhir penelitian didapatkan hasil yang sesuai dalam pengukuran menggunakan ketiga alat ukur tersebut. Nilai prediksi yang didapat mendekati angka yang tinggi menandakan ketiga alat ukur tersebut dapat dinyatakan andal dan sahih untuk digunakan. Skala pengukuran ini juga merupakan temuan yang pertama di Indonesia.

Pemaparan hasil penelitian dan temuan baru ini dipresentasikan oleh dr. Theresia M. D. Kaunang, SpKJ(K) pada sidang terbuka meraih gelar doktor yang dilaksanakan di Ruang Sena Pratista, Rabu (20/7/2011). Yudisium dipimpin oleh Sekretaris Fakultas FKUI, Dr. dr. Siti Setiati, SpPD(K). Bertindak sebagai promotor adalah Dr. dr. R. Irawati Ismail, SpKJ(K), M. Epid, dan ko promotor yaitu Prof. Dr.dr. Sudigdo Sastroasmoro, SpA(K) dan Prof. dr. Sasanto Wibisono, SpKJ(K). Theresia berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pengembangan Instrumen untuk Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif pada Anak Prasekolah” di hadapan tim penguji. Adapun yang bertindak sebagai ketua tim penguji kali ini yaitu Prof. Dr. dr. Sarwono Waspadji, SpPD-KEMD, dengan anggota penguji yaitu Prof. Dr. dr. Angela B.M. Tulaar, SpRM(K), Prof. Dr. Mulyono Abdurrahman, dan penguji tamu dari Universitas Katolik Atmajaya Prof. Irwanto, Ph.D.

Baca Juga:  Pengamat: Ormas di Indonesia wajib taat pada UUD 45 dan Pancasila

Di akhir yudisium, dokter kelahiran Manado, 7 November 1967 ini dianugerahi gelar doktor dengan nilai A. Beliau menjadi doktor ke 152 di FKUI dan doktor ke 15 yang diluluskan pada 2011. Dengan ditemukannya alat ukur tersebut, diharapkan anak dengan GPPH bisa dideteksi lebih dini dan diminimalisir dampak negatifnya. LI-04(sumber: Fak. Kedokteran UI)