Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Digusur Pelindo, Pedagang Pasar Petekan Lapor Dewan
HEADLINE PROOTONOMI

Digusur Pelindo, Pedagang Pasar Petekan Lapor Dewan 

LENSAINDONESIA.COM: Sejumlah perwakilan pedagang Pasar Tradisional Petekan mengadu ke Komisi B DPRD Surabaya karena kebijakan PT Pelindo III yang akan menggusur sekaligus memanfaatkan lahan yang kini dihuni sekitar 200 pedagang.

Seperti yang terjadi ditempat lain, PT Pelindo III meminta pedagang agar segera meninggalkan lokasi dengan tanpa kesiapan atau memberikan lokasi alternatif.

Jumlah pedagang yang kini mengais rejeki di Pasar Petekan tidak kurang dari 200 orang pedagang dengan rincian 34 stan dan sisanya adalah pasar tumpah yang jumlahnya justru lebih banyak.

Seiring dengan perkembangan, tiba-tiba PT Pelindo III melirik lokasi yang kini ditempati para pedagang pasar di Petekan menjadi target untuk pengosongan. Alasanya, masuk dalam wilayah perombakan kawasan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Hal inilah yang menjadikan para pedagang Pasar Petekan resah, karena instruksi pengosongan lahan tidak disertai dengan relokasi alternatif bagi para pedagang yang telah puluhan tahun menempatinya.

“Kami ini pedagang kecil yang jualanya hanya satu sampai dua ranjang, karena kelas kami bukan pengepul. Kalau kami harus pindah ke Pasar Osowilangun atau tempat lain yang jauh, tentu berpengaruh kepada ongkos yang kami keluarkan, artinya kami nggak bisa jualan. Mestinya, Pelindo harus bijak dengan menyertakan relokasi setelah pengosoangan lahan,” ujar Sahlan, salah seorang pedagang buah.

Perwakilan pedagang Pasar Petekan diterima langsung oleh Komisi B yang dipimpin Ketua Komisi B Mahmud. “Baik terimakasih atas penyampaiannya, kami akan mencoba mengkomunikasikan dengan pihak Pelindo agar kebijakan yang diambil tetap memperhatikan nasib para pedagang yang telah lama menempatinya,” papar Mahmud.

“Kami hanya minta agar tidak dilakukan pemindahan makanya kami datang kesini (DPRD) untuk meminta dukungan dewan agar di fasilitasi dan dimediasi untuk bisa berbicara dalam satu meja dengan pihak PT Pelindo III sebagai penguasa wilayah. Karena, kami menempati lokasi itu sejak tahun 1949, artinya jaman kakek dan nenek, saya ini turunan kelima yang masih menempati stan untuk tetap berdagang,” beber Sahlan. ALI/LI-10