Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
AKTIVIS

ICW: Awas, Nazaruddin Bisa Jadi ‘Martir’ Menyerang KPK 

LENSAINDONESIA.COM: Awas, Nazaruddin bisa menjadi ‘martir’ untuk menyerang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Demikian diungkapkan Peneliti dan Kordinator Bidang Hukum Indonesian Coruption Wacth (ICW) Febri Diansyah, Selasa (9/8).

“Pasca Nazaruddin ditangkap ada begitu banyak perdebatan yang akan terjadi. Kita berharap ini diletakkan pada konteks penegakan hukum, karena dimungkinkan ada upaya pembelokan dan atau dijadikan tarik menarik isu politik, atau isu lainnya dan bahkan kemungkinan dijadikan isu untuk menyerang balik KPK,’’ ujar Febri kepada LIcom di Jakarta.

Karena itu, menurut Febri, pasca ditangkapnya Nazaruddin, harus ada ada konsep perlindungan dalam konteks penegakan hukum. Itu bertujuan untuk mengungkap siapa aktor utama atau master mind di balik kasus Suap Sesmenpora.

KPK, lanjut Febri, harus memikirkan serius proses substansial dalam proses hukum. Perlindungan tidak hanya terhadap Nazaruddin saja, karena pendapat Nazaruddin akan berpengaruh tidak hanya terhadap lingkaran aktor utama tapi juga terhadap keluarganya.

“Saya kira perlu juga dipertimbangkan serius oleh KPK adalah misalnya kasus Wisma Atlet sudah menyebut sejumlah nama yang menerima aliran, tapi kita baru melihat hanya nama Nazaruddin di sana, tapi dimana aliran dana terhadap DPR, dimana aliran dana terhadap partai tertentu? Kita berharap KPK harus sampai disana,’’ jelasnya.

Di ingatkan oleh Febri, KPK lebih berhati hati dan tidak gegabah dalam menyikapi kasus yang sedang ditanganinya, karena dimungkinkan modusnya adalah pemberian aliran dana tersebut bukan ketika proyek sudah diterima, tapi dana sudah diberikan jauh di depan.

“Kalo hanya dilihat dalam konteks transaksi pada waktu itu kita tidak akan menemukan aktor utama dalam skandal ini. Misalnya proyeknya baru lima bulan lagi atau enam bulan lagi tapi dana sudah diberikan di depan, ditalangi atau apa istilahnya. Tantangannya adalah bagaimana mekanisme teknis hukumnya agar kemudian bisa dijerat oleh KPK,’’ lanjutnya.

Baca Juga:  Rhenald Kasali : "CEO harus paham, disrupsi lebih mudah diatasi ketimbang resesi!"

Karena, diyakini Febri, kasus yang melibatkan Nazaruddin sebagai salah satu aktor utama harus dilihat dalam konteks adanya rangkaian yang lebih besar agar dapat mengungkap bagaimana pola korupsinya.

“Jadi ini menjadi penting karena memang ada sebuah rangkaian besar dari sejumlah kasus yang ditangani KPK, agar kasus ini tidak menjadi seperti satu kasus kebakaran yang ditangani pemadam kebakaran, begitu padam, selesai, tanpa kita bisa menemukan pola korupsinya bagaimana, dan bagaimna dana politik tertentu dan kemudian dimanfaatkan dari hasil korupsi,’’ pungaks Febri.esa/LI-07