Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Art & Culture

Tamsir Kena Karma Kakeknya Karena Suka Membunuh dan Menyiksa Binatang 

Kakek Tamsir dulu jagoan. Tapi, dia suka membunuh. Paling suka, kakeknya membunuh dan menyiksa binatang. Akibatnya, karma pun menimpa cucunya.

—————————–

Pedukuhan Sumber Wangi, seperti menebar aura ghaib. Pedukuhan itu, dekat dengan hutan yang lebat. Dari tempat itu, juga terlihat bentangan Pantai Selatan.

Tanah di situ sangat subur. Meski terpencil, pedukuhan itu dihuni ratusan orang. Tapi, tempat itu selalu sepi di siang hari. Dan, seperti kota mati jika malam hari.

“Saya nggak tahu kenapa dari tempat ini kita bisa melihat pantai selatan. Sejak kakeknya kakek saya, tempat ini sudah dihuni orang, meski di tengah hutan,’’ kata Siruji, seorang warga yang usianya sudah kepala tujuh.

Sama dengan Siruji. Beberapa warga di sana juga mengaku sudah sangat lama tinggal di pedukuhan itu. Bahkan Mbah Pasol, orang yang dianggap paling tua di wilayah Malang, mengaku dirinya sudah besar saat tentara Belanda, masuk ke Malang Raya.

”Kalau tanggalnya dan lahirnya saya nggak ingat. Yang saya tahu, waktu ada perang lawan belanda, saya sudah besar. Sudah waktunya untuk kawin kalau orang sekarang bilang,” kata Mbah Pasol.

Dari cerita Mbah Pasol, warga yang bermukim di Malang Selatan, adalah pejuang yang gagah berani. Mereka kebanyakan tentara yang siap mati. Saking beraninya, pejuang yang tinggal di tempat Tamsir lahir, sangat ditakuti Belanda.

Yang juga masih menjadi cerita misteri, di sekitar pedukuhan tempat Tamsir lahir, konon ada gua di bawah tanah. Tidak banyak orang yang mengetahui. Katanya, di dalam gua itu, terdapat beberapa peninggalan sejarah. Bahkan, di situ ada harta warisan republik ini. Di sekitar tempat itulah Tamsir dilahirkan.

Baca Juga:  91 Pati TNI terima Tanda Kehormatan

Kata orang, bentuk gua itu memang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Tapi, menurut beberapa polisi yang bertugas di Polres Malang, di gua itu memang ada lantakan emas.

Konon, emas itu peninggalan kerajaan zaman dulu. Emas itu disimpan di sebuah tempat mirip gudang. Bangunan itu pun hanya terbuat dari seng. Letaknya, ada di dalam belantara hutan.

Nah, rumah Tamsir tak jauh dari situ. Ada tiga orang berdiri di depan rumah . Satu lelaki sudah tua. Satu wanita masih muda. Satunya lagi, seorang pemuda dengan wajah benar-benar aneh. Yah, itulah Tamsir.

Jika diperhatikan seksama, struktur tubuh Tamsir, memang mirip-mirip seperti katak. Namanya orang desa, mereka ramah-ramah. Rumahnya sederhana, bersih. Dan, sangat tenang.

“Ini Sulistrin. Kakaknya Tamsir yang nomer dua. Yang pertama, sekarang di Taiwan. Kerja,’’ kata lelaki yang diketahui ayahnya Tamsir. Namanya Wagimin. Usianya 58 Tahun. Sementara istri Wagimin bernama Sarpini. Sekarang sudah berusia 54 Tahun.

“Yah, semua ini sudah kehendak Ilahi mas. Kalau sudah takdir, mau diapakan lagi? Kalau memang ini disebut karma, saya akan menerimanya dengan lapang dada. Saya tidak kecewa. Saya sadar. Ini bukan salah saya. Meski tidak ikut berbuat, biarlah karma ini saya tanggung,’’ kata Wagimin menceritakan keadaan anaknya, Tamsir.

Menurut cerita Wagimin, dulu Tamsir menjadi begitu (keadaannya-red) karena sikap kakek-buyutnya.

“Kakek Tamsir dulu jagoan. Suka membunuh. Mereka juga suka menyiksa binatang,” kenang Wagimin.

Ah, merinding juga mendengarnya.

Ya, karena itulah kemudian karma pun turun pada diri Tamsir. Bocah itu keadaannya menjadi seperti sekarang. Sering orang memanggilnya: bocah katak. Itu karena rupa dan fisik Tamsir menyerupai katak.

Meski begitu, kondisi Tamsir sangat normal. “Dia normal kok. Kata orang, dia itu lain fisiknya saja. Secara batin dan pikirannya, saya melihatnya dia normal. Dia bisa diajak bicara. Buktinya, ia ngerti apa yang kita omongkan saat ini,” kata Wagimin.

Baca Juga:  BJ Habibie wafat, Gubernur Khofifah ajak warga Jatim kirim doa

Saat itu Tamsir melihat ke arah Wagimin. Dia mengangguk-angguk. Dan memang dia mengerti apa yang sedang orang dibicarakan.

Saat usia Tamsir menginjak empat sampai enam tahun, tubuhnya masih terlihat kurus dan kecil. Diusia itu, tak jarang Tamsir harus digendong kemana-mana.

Meski sudah bisa berjalan normal, Tamsir waktu itu, mendapat perhatian penuh. Apalagi, dalam usia itu, Tamsir juga sangat rentan terhadap berbagai macam penyakit.

Syukurlah, Tuhan Maha Adil. Meski ada kelainan, Tamsir tergolong bocah kecil yang sehat-sehat saja. Paling banter, Tamsir sakit panas. Batuk. Serta demam yang membuat tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.

Tak lama, biasanya. Jika panas dalam tubuhnya terasa tinggi, Sarpini pun langsung membawanya ke Puskesmas terdekat. Setalah disuntik dan diberi obat, Tamsir pun sembuh kembali.

Tamsir lahir pada Selasa Wage, 28 Agustus 1987, sekitar jam dua siang. Tamsir lahir pada saat matahari bersinang begitu terang. Tak ada mendung. Tak juga hujan. Suasananya sangat-sangat cerah. Langit biru tanpa mendung.

Hingga saat ini, Sarpini tidak tahu apa penyebab fisik Tamsir seperti itu. Menurutnya, selama mengandung, ia juga tidak mengalami hal-hal yang aneh. Semuanya berjalan normal, dalam kandungannya, Sarpini hanya menjaganya agar kelak, Tamsir lahir normal dan seperti kedua kakaknya. Berwajah elok. Cantik. Dan bisa membantu keluarganya.bersambung/LI-07