LENSAINDONESIA.COM: Anggota Komisi IV DPR RI, Ma’mur Hasanuddin, mengatakan, meskipun Indonesia telah merdeka lebih dari setengah abad, namun kemerdekaan itu hanya untuk segelintir orang, yang hidup dalam berkecukupan.

“Petani kita masih hidup dalam tekanan ekonomi, kepasrahan alam, ketidakberdayaan gejolak sosial budaya dan pengaruh globalisasi serta jajahan kebijakan yang sering kali menghimpit kinerja mereka,” jelas Ma’mur Hasanuddin, dalam releasenya sebagai refleksi 66 tahun Indonesia Merdeka, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Selasa (16/8/2011).

Menurutnya, pemerintah hingga saat ini masih belum berpihak kepada petani yang masih hidup miskin dan terbelakang. Dalam catatanya, dari 31 juta jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini, lebih dari 70 persennya adalah petani. “Ini menunjukkan, betapa petani kita masih terbelenggu dalam penjajahan tekanan hidup,” jelasnya.

“Maka, dalam kesempatan pidato Presiden menyampaikan RAPBN 2012, saya meminta kepada pemerintah terutama Presiden agar memperhatikan betul kemerdekaan absolut bagi petani. Jika tidak, mereka tidak merdeka secara ekonomi, maka sesungguhnya Indonesia ini masih belum merdeka,” tegas Ma’mur.

Selain itu, dia menghimbau, melalui RAPBN 2012 pemerintah dan Presiden harus merancang konsep pembebasan petani yang berjumlah mayoritas, yakni 62 persen dari total 241 juta penduduk Indonesia. Agar, merdeka dari kemiskinan dengan memberikan jaminan ekonomi yang layak bagi mereka.

“Sudah tujuh tahun SBY duduk di kursi kepresidenan. Kami berharap presiden menjadi orang yang paling depan untuk mengajak seluruh elemen bangsa untuk memerdekakan petani dari jajahan tekanan ekonomi yang menghimpit mereka. Karena, dengan kemerdekaan petani, berarti secara tidak langsung telah memerdekakan penduduk Indonesia,” ujar Ma’mur Hasanuddin. ESA/LI-10