Tiada yang menyangka, penderitaan lahir dan batin harus ditanggung oleh perempuan renta ini. Dulu, ia bercita-cita menjadi pemain sandiwara, tapi kemudian pupus oleh tipu daya Jepang. Ia pun harus rela dijadikan Jugun Ianfu, pemuas nafsu birahi serdadu Jepang. Benar-benar menyakitkan!

Sosoknya begitu bersahaja. Usianya tak lagi muda. Ia tinggal di salah satu gang di sudut kota Yogya, tepatnya di daerah Pathuk (yang terkenal dengan bakpianya). Rumahnya mungil. Orang-orang sekitar memanggilnya Mbah Mardiyem.

Mardiyem berusia 78 tahun. Tak  ada yang tahu jika dirinya dulu pernah menjadi budak seks tentara Jepang. Dan karena itu ia memiliki nama panggilan semasa pendudukan Jepang di Indonesia. Ia, oleh tentara Jepang, dipanggil dengan ‘Momoye’. Panggilan itu merupakan panggilan bagi jugun ianfu yang dipekerjakan saat itu.

Tak banyak orang yang mengunjungi rumah Momeye. Ia telah banyak dilupakan. Dilupakan oleh negara dan dilupakan oleh teman-temannya. Bahkan, banyak dari teman-temannya yang sudah meninggal.

“Beginilah saya sekarang,” ungkapnya dalam bahasa Jawa sembari memperkenalkan diri.

Meski demikian, sosoknya masih kelihatan cantik. Wajah dan kulit yang terlihat putih menjadi penanda sisa-sisa kecantikan masa lalunya. Pendengarannya pun masih setajam dulu. Sepertinya tak banyak yang berubah dari perempuan tua ini, selain keriput yang makin melebar dan gerakannya yang terlihat lamban. Dan mulailah Mardiyem menuturkan pengalamannya.

Mardiyem lahir di Yogyakarta pada tahun 1929. Saat itu, Mardiyem kecil hanya mengecap pendidikan hingga kelas II sekolah rakyat (SR) di Yogyakarta. Dan ia  memiliki bakat di bidang seni. Mardiyem sejatinya terlahir sebagai seniman handal. Ia mahir menyanyi keroncong dan sering tampil di pergelaran sandiwara di kampungnya.

Suatu hari di jaman penjajahan di tahun 1942, Mardiyem ditawari main sandiwara oleh seorang Jepang. Waktu itu umurnya baru 13 tahun, ayah dan ibunya sudah meninggal. Kakak yang saat itu tinggal dengannya pun mengizinkan untuk menerima tawaran itu.

Saat itu ada 48 perawan Yogyakarta yang diangkut dengan kapal Nichimaru milik Jepang menuju Telawang, Kalimantan Selatan. Di pulau seberang itu mereka dibagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama ditempatkan di restoran Jepang. Kelompok kedua dipekerjakan sebagai pemain sandiwara. Kelompok ketiga, termasuk Mardiyem, dibawa ke sebuah asrama tentara Jepang yang dipagari bambu tinggi. Orang menyebut tempat itu ian jo. Di area itu terdapat puluhan kamar berjejer teratur.

Cikada, pengurus asrama itu, segera menemui para gadis, termasuk Mardiyem. Para gadis itu diberi nama Jepang. Mardiyem pun menjadi Momoye, setelah terinspirasi cantiknya bunga kembang kertas yang dalam bahasa Jepang disebut Momoye. Setelah diperiksa dokter, para gadis diperintahkan menempati kamar masing-masing. Kamar itu sempit, luasnya tak lebih dari dua meter persegi.

Mardiyem ditempatkan di kamar nomor 11. “Dindingnya masih tercium ada bau cat,” tuturnya.

Gadis remaja itu terhenyak. Ia merasa ditipu, karena ternyata pekerjaan menjadi pemain sandiwara muslihat belaka. Mulai saat itu ia resmi menjadi jugun ianfu, budak seks bagi tentara Jepang. Sejak itu pula Mardiyem tak akan pernah bisa melupakan pengalaman duka tersebut.

Pada hari pertama “kerja” tiba-tiba seorang pria Jepang nyelonong ke kamarnya. Lelaki berewok itu membawa karcis. “Saya tendang. Saya lawan. Tapi, seberapa sih kekuatan anak umur 13 tahun?” ujar Mardiyem.

Benteng itu hancur lah sudah. Air matanya mengucur deras menahan pedih. Sakit! Dia tak pernah lupa pada derita perih saat kegadisannya direnggut.

Ternyata lelaki berewok itu baru permulaan, pembuka petaka. Siang itu pula enam laki-laki bergiliran mendatangi kamarnya. Kamar sempit itu segera menjadi neraka bagi Mardiyem. Kemaluan remaja yang belum mendapat haid itu mengalami perdarahan hebat. “Saat berjalan saja darahnya sampai netes. Kain saya basah jadinya,” ujarnya lirih seperti yang dikutip dalam sebuah situs berita.

Selama tiga tahun Mardiyem dikurung di kamar nomor 11. Siang-malam dia harus melayani birahi tentara Jepang. Waktunya habis dalam kamar “pemerkosaan” itu. Bahkan, untuk makan yang hanya dijatah satu kali sehari pun sering tak sempat.

Bukan hanya kekerasan seksual yang dialami Mardiyem selama tiga tahun itu. Pukulan, tamparan, dan tendangan menjadi makanan sehari-hari. Para tamu ataupun pengelola ian jo begitu ringan tangan setiap Mardiyem menolak melayani. Setiap hari Mardiyem harus menjadi Momoye dan dipaksa melayani sedikitnya 5 hingga 10 lelaki.

Ternyata para pengunjung ian jo harus membeli karcis untuk bisa memperkosa Mardiyem dan kawan-kawannya. Semakin malam, harga karcisnya kian mahal. Setiap jugun ianfu harus mengumpulkan karcis yang dibawa para tamu. Menurut pengelola ian jo, karcis-karcis itu akan ditukarkan dengan uang di kemudian hari. Tiga tahun berlalu, namun para gadis itu tidak menerima satu sen uang pun . Padahal, selama tiga tahun menjadi Momoye, Mardiyem mengumpulkan satu keranjang karcis.

Dua tahun berlalu. Suatu hari, Cikada, pengelola ian jo, memanggil Mardiyem ke kantornya. Mardiyem dibawa ke rumah sakit, karena gadis yang baru menginjak usia 15 tahun itu hamil. Petugas rumah sakit menggugurkan paksa kandungannya tanpa bius. Seorang perawat menekan perut gadis malang itu kencang-kencang. Mardiyem pun menjerit keras. Janin yang berusia 5 bulan itu keluar dari rahimnya. Akhirnya, janin yang berwujud manusia itu hanya sesaat merasakan dunia.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Mardiyem dan rekan-rekannya lepas dari cengkeraman tentara Jepang. Tak lama setelah mereka lari, pasukan Sekutu menghujani asrama itu dengan bom.

“Aku semakin sedih jadinya, kalo ingat masa-masa itu”, tutur Mardiyem.

Setiap malam tiba, penderitaan selama menjadi Momoye selalu terbayang. Air matanya pun menetes. Semua kenangan sedih itu terurai kembali.bersambung/LI-07