LENSAINDONESIA.COM: Kebocoran pipa dari Lapangan Duri, Chevron, ke Dumai tahun lalu, membuat produksi minyak nasional tahun ini menjadi tidak optimal. Bocornya pipa menyebabkan produksi dari lapangan minyak terbesar Indonesia itu harus dihentikan selama beberapa waktu.

“Ketika dioperasikan kembali tingkat produksi menurun, sehingga secara nasional produksi minyak tahun 2011 turun drastis,” kata Deputi Perencanaan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP MIGAS), Haposan Napitupulu, saat dikonfirmasi LENSAINDONESIA.COM melalui pesan elektronik di Jakarta, Selasa (16/8/2011).

Menurutnya, hingga Juli 2011 ini rata-rata produksi minyak Indonesia 904 ribu barel per hari, jauh di bawah target produksi yang ditetapkan dalam APBN-P 2011 sebesar 945 ribu barel per hari. Padahal, untuk mencapai target APBN-P tahun 2011, terhitung 1 Agustus 2011 sampai akhir Desember 2011 dibutuhkan realisasi produksi 980 ribu barel per hari.

“Berbagai langkah harus dilakukan, salah satunya mengoptimalkan lapangan yang produksinya di bawah 5.000 barel minyak per hari,” jelasnya.

Meski produksi tak capai target, secara keuangan target penerimaan APBN 2011 dapat dilampaui. Realisasi penerimaan Semester I dari sektor hulu migas mencapai US$ 17 miliar dari target US$ 16,5 miliar. Hingga akhir tahun diproyeksikan penerimaan mencapai US$ 32,4 miliar dari target APBN semula yakni US$ 26,6 miliar.

Pada September setahun lalu, pipa minyak yang dioperasikan oleh PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pecah, sehingga tiga Kontraktor KKS harus menghentikan produksinya selama beberapa hari. Karena, pipa minyak tersebut tidak dapat menyalurkan minyak ke tanki penampung Dumai. Ketiga Kontraktor KKS tersebut adalah PT Chevron Pascific Indonesia, PT BOB Bumi Siak Pusako, dan PT SPR Langgak.

Mengacu kebutuhan energi Indonesia pada 2025 mendatang, total kebutuhan nasional sekira enam juta barel ekuivalen minyak per hari (BOEPD). Apabila produksi minyak dan gas bumi konstan yaitu 2.300.000 BOEPD seperti saat ini, pada tahun 2025 migas hanya akan mensuplai kebutuhan energi sebesar 28 persen saja, atau turun dari posisi saat ini sebagai pemasok 77 persen kebutuhan energi nasional.

Namun demikian, Haposan meragukan kapasitas produksi minyak nasional dalam waktu 15 tahun sumber energi lain dapat dikembangkan hingga memenuhi 72 persen kebutuhan energi tahun 2025. Sebab, kini energi lain hanya mendukung 23 persen kebutuhan energi.

“Didasarkan pada kenyataan ini, kegiatan usaha hulu migas harus dimaksimalkan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan energi nasional,” pungkasnya. AND/LI-10