Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Art & Culture

Satu Hal yang Dicita-citakan Tamsir, Dia Ingin Sekolah 

Saat bicara tentang kesembuhan anaknya, Sarpini dan Wagimin tertunduk. Tatapanya lesu. Dari mata orangtua itu basah. Mereka menangis. Tangis untuk Tamsir.

———————————-

Sejak masih bayi, Tamsir memang tak pernah dibawa ke dokter ahli. Ya, sekelas Puskesmas sajalah. Itupun kalau lagi sakit panas.

Sarpini banyak berharap, kelak Tamsir bisa hidup normal dan panjang usia. Begitu juga Minarmi dan Sulistrin, kakak perempuan Tamsir, ingin adiknya normal.

Karena itu, mereka rela melakukan apa saja. Yang penting Tamsir sehat. Tidak sakit-sakitan.

Tamsir juga terus dididik agar tidak pernah melukai orang lain. Sedikit demi sedikit, rasa menyayangi sesama ditanamkan pada dirinya. Meski kesulitan bicara, Tamsir terus dipandu untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain.

Sangat berat. Harus dengan kesabaran tinggi. Lambat laun, Tamsir bisa mengucap kata-kata. “Bicaranya sedikit pelat. Tapi, dia ngerti apa yang diomongkan orang lain. Tak jarang, dengan teman-teman sebayanya, dia juga ngobrol bareng. Cuma nadanya saja yang terkadang tidak terlalu jelas. Tapi kalau maksudnya, dia sebenarnya tahu,’’ kata Wagimin pelan.

Hingga kini, sudah empat bupati berganti memimpin Kabupaten Malang. Tamsir tumbuh menjadi ABG. Tingginya 165 centimeter, termasuk jangkung untuk seumurannya.

Inilah masa-masa yang mulai sulit. Masa dimana Tamsir harus menjadi pemuda. Sarpini dan Wagimin menyadari itu.

“Yang pasti, kita cuma ingin dia sehat dan panjang umur. Syukur-syukur, kalau dirinya bisa menjadi sandaran keluarganya kelak hari. Yang pasti, saya  menyerahkan semuanya pada Tuhan,’’ kata Sarpini lirih.

Tamsir juga ramah. Ia suka bergaul dengan anak-anak sekitar rumahnya. Cuma, karena kondisinya yang demikian, Tamsir biasanya bergaul dengan anak usia yang jauh lebih muda darinya.

Tak ada rasa minder atau berusaha menjauhkan diri dari warga sekitar. Ini yang membuat Tamsir banyak teman. Tamsir juga tidak pernah mengganggu.

Baca Juga:  Karyono Wibowo: Pelantikan Jokowi akan berjalan mulus

‘’Teman-temannya di kampung baik-baik. Mereka tidak pernah mengucilkan Tamsir. Meski punya kekurangan, jika ada Tamsir, mereka juga tak pernah menghindar. Bahkan, tak jarang Tamsir menyapa dan ikut teman-temannya bermain. Pokoknya, tak ada teman-temannya di kampung yang mengucilkan Tamsir. Soalnya, Tamsir sendiri juga ramah dan selalu menyapa warga yang ditemuinya jika di jalan,’’ kata Wagimin.

Hanya satu hal yang belum bisa dilakukan Tamsir dalam usianya yang remaja, Dia tak pernah sekolah, membuat Tamsir.

“Saat masih ada Pak Lurah Rakijan, Tamsir pernah diusahakan bisa sekolah. Waktu itu Tamsir akan dimasukkan sekolah SLB. Pak Rakijan sangat getol membantu Tamsir. Pokoknya, Tamsir harus sekolah. Soalnya, Pak Rakijan melihat jika Tamsir punya daya ingat dan daya tangkap yang tinggi,’’ kata Sarpini.

Sayang, saat Pak Rakijan berusaha mati-matian memasukkan Tamsir pada sebuah sekolah luar biasa, tak ada yang mau menerimanya. Akhirnya, Pak Rakijan yang ingin dan sangat yakin jika Tamsir punya otak yang encer, tak bisa berbuat banyak.

Pak Rakijan meninggal sebelum Tamsir bisa mengenyam bangku sekolah seperti teman sebanyanya.

Karena tidak bisa sekolah, maka hari-hari Tamsir banyak dihabiskan untuk membantu orangtuanya. Pagi-pagi sekali, dia sudah membersihkan rumah. Setelah itu, ke sawah.bersambung/LI-07