LENSAINDONESIA.COM: Anggota Komisis III DPR Bambang Soesatyo menyatakan pidato kenegaraan Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) tentang semangat pemberantasan korupsi tidak otomatis membangun harapan baru di masyarakat. Bahkan, menurutnya, pidato tersebut hanya pengulangan saja.

“Sementara rakyat ingin melihat aktualisasi keseriusan pemerintah dalam memerangi korupsi. Masyarakat haus bukti, bukan hanya janji,” ujarnya saat dikonfirmasi LENSAINDONESIA.COM di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Selasa (16/8/2011)

Menurutnya, rendahnya peran institusi penegak hukum seperti KPK, kepolisian dan kejaksaan, dalam efektifitas memberantas korupsi menjadi indikator rendahnya komitmen atau ketidakseriusan pemerintah dalam perang melawan korupsi.

“Setidaknya, KPK tidak mampu menuntaskan kasus-kasus besar yang menjadi perhatian publik. Seperti, kasus Bank Century dan Mafia Pajak yang sampai saat ini belum terselesaikan. Kedua, keberhasilan menangkap Nazaruddin dan kegagalan menangkap buron lain, Nunun dan sebagainya, mencerminkan inkonsistensi penegak hukum dalam memberantas korupsi,” jelas Bambang.

Persoalan inkonsistensi tersebut, lanjut Bambang, menjadi penting karena mencerminkan tidak adanya kesungguhan dalam mengaktualisasi pemberantasan korupsi.

“Karena, kalau tidak ada kesungguhan itu, dalam proses hukum kasus korupsi di negeri ini akan akan terus melahirkan tuduhan tebang pilih. Jadi, pidato Pak SBY yang mengatakan efektifitas pemberantasan korupsi masih harus terus ditingkatkan, hanya pengulangan saja. Karena, faktanya banyak kasus besar yang jalan di tempat,” jelas Bambang. ESA/LI-10