LENSAINDONESIA.COM: Kegiatan uji seismic yang dilakukan oleh PT Camar Resources Canada (CRC) di kawasan utara perairan wilayah Kabupaten Tuban dalam dua bulan terakhir ini menghasilkan ‘aroma’ tidak sedap. Tidak hanya masalah ganti rugi bangunan rumpon yang masih tersisa, namun juga menimbulkan bentrok antar nelayan sendiri.

Saat ini nelayan tidak lagi menjaring ikan di sekitar rumpon ‘miliknya’, namun juga mengambil hasil laut tersebut ‘dilahan’ nelayan lain.

“Nelayan mulai slintutan. Tidak hanya ikan-ikan di sekitar rumpon sendri yang dijaring,” keluh Andik, nelayan Kingking.

Rumpon atau rumah ikan di laut bisa diibaratkan ‘sawah’ bagi para nelayan. Bangunan yang dibawah air berisi batu-batuan dan sejenisnya itu dibuat kelompok ataupun pribadi nelayan. Tanda-tanda yang terlihat dari permukaan air adalah batangan bambu. Batangan inilah sekaligus menjadi pertanda, semacam hak milik.

Uji seismik yang bertujuan untuk meneliti kandungan minyak bumi ini terpaksa membabat rumpon. Batangan bambu dipotong hingga tidak terlihat dari permukaan air laut. PT CMC memang memberikan ganti rugi dengan besaran Rp 1 juta setiap rumpon. Sayangnya, data rumpon milik nelayan berbeda dengan catatan aparat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Tuban.

Awalnya perbedaan ini menyulut keresahan nelayan. Hingga saat ini, sebagian nelayan masih meminta tambahan ganti rugi kepada PT CMC lewat aparat DKP. Masih belum usai, kegiatan nelayan di laut juga terkendala dengan rusaknya jaring-jaring milik mereka yang tersangkut batangan bambu di bawah air.

Informasi yang diterima LENSAINDOENSIA.COM, banyak nelayan nyaris bentrok, karena ‘sawahnya’ diserobot temannyanya sendiri. “Kami sama-sama menimbang rasa. Kalau ketahuan yang menyingkir. Tapi sampai kapan,” ujar nelayan yang lain.

Salah seorang pengurus paguyuban nelayan yang juga anggota Komisi A DPRD Tuban, H Dodyk Fachruddin, mengaku kebingungan karena dibanjiri keluhan para nelayan. “Awalnya saja kita tidak tahu. Tiba-tiba situasinya seperti ini. Kami berjanji membantu persoalan nelayan tapi sementara kami minta sabar dulu,” tegas Dodyk. JAN/LI-10