LENSAINDONESIA.COM: Produksi minyak di sumur Sukowati Bojonegoro, yang di kelola Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Petrocina East Java (PPEJ) hingga kini mencapai 43.000 barrel perhari. Bahkan, sumur Sukowati juga terdapat potensi produksi gas yang melimpah ruah.

Namun sayang, hingga kini gas tersebut tidak di manfaatkan secara baik, melainkan hanya dibakar melalui cerobong yang menjulang ke langit di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban. Padahal, bila dikelola produksi gasnya mencapai pendapatan kurang lebih Rp 300 juta per harinya, karena produksi gas tersebut dapat untuk berbagai kebutuhan pabrik dan juga gas elpiji .

Selama kurun waktu 6 tahun gas tersebut hanya di bakar dengan sia-sia. Hal ini di tegaskan oleh Komisaris PT Bangkit Bangun Sarana (BBS), BUMD milik Pemkab Bojonegoro Ir Yuris K Dpl Eng saat di konfirmasi LENSAINDONESIA.COM, Rabu (17/2011).

Menurutnya, produksi gas yang di bakar tersebut saat ini sudah melebihi ambang batas yang membahayakan, karena dalam kajian sudah overlimit dengan ukuran 33 MMSCFD atau sebanding dengan 33 juta feet per hari. Bahkan, pembakaran itu membawa dampak yang membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Emisi gas buangnya berdampak pada rusaknya lapisan ozon dan juga mengakibatkan dampak yang serius terhadap rumah kaca dan pemanasan global.

Gas yang di bakar itu sangat merugikan masyarakat Bojonegoro. Pasalnya, harta yang seharusnya bisa di manfaatkan warga Bojonegoro dan sekitarnya seharga Rp 300 juta per harinya itu ternyata tidak di kelola dengan baik dan hanya di bakar.

Untuk itu, PT BBS saat ini telah menggandeng PT Intermedia Energin (IE) untuk mendirikan pabrik gas LPG di Desa Sukowati, Bojonegoro. Dengan investasi sebesar kurang lebih Rp 300 miliar. “Saya berharap pabrik gas ini nantinya akan dapat membantu pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gas yang saat ini sudah menjadi kebutuhan rakyat,” ujarnya.

Yuris menambahkan, dari delapan kontraktor nasional yang mendaftar untuk membangun pabrik gas tersebut akhirnya PT Intermedia Energin yang terpilih. “Mitra kerja tersebut sudah melalui seleksi yang sangat ketat dan dianggap professional di bidangnya,” kata Yuris.

Pabrik gas yang lokasinya berada di dekat sumur minyak Sukowati tersebut nantinya akan dikelola BUMD PT BBS. Dari 33 juta feet energi gas perhari PT Gasuma yang selama ini ahli dalam mengelola gas di Indonesia akan mengelola 12 juta energi gas. “Sedangkan, energi gas selebihnya akan di kelola oleh BUMD yang menggandeng mitra yang telah dipilihnya,” jelas Yuris.

Gas yang selama ini terbuang mempunyai banyak kegunaan, diantaranya untuk LPG, bahan baku bensin dan lainnya. Bahkan, jika dikalkulasi kerugian Pemkab Bojonegoro atas pembuangan gas itu mencapai Rp 144 miliar. Padahal, gas itu sudah di bakar sejak tahun 2005. “Untuk itu, sebagai langkah awal pihaknya telah membebaskan tanahnya yang akan dibangun untuk pabrik pengelolaan gas di dekat sumur Sukowati,” tandas Yuris. HID/LI-10