LENSAINDONESIA.COM: Sepak terjang mantan Bendahara Umum (Bendum) DPP Partai Demokrat, M Nazaruddin sebagai mafia proyek yang berasal dari dana APBN kian terkuak.

Bahkan, salatu proyek terbesarnya adalah di Surabaya. Hal itu setelah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengakui keterlibatan Nazaruddin dalam tender pembangunan dua Rumah Sakit (RS) milik Unair Surabaya. Diantaranya, proyek Rumah Sakit Tropik Infeksi (RSTI) yang dihibahkan Departemen Kesehatan RI dan Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unair.

Direktur Sumber Daya Universitas Airlangga Surabaya, Prof Fendy Suhariadi MT Psi mengakui, bahwa Nazaruddin ada di dalam proses pembangunan di Rumah Sakit Tropik hibah dari Departemen Kesehatan tersebut. Namun, Fendy menolak bila proyek pembangunan Rumah Sakit Pendidikan (RSP) milik Unair Surabaya itu dikait-kaitkan dengan politisi Demokrat yang kini menjadi tahanan Komisi Pembarantasan Korupsi (KPK).

“Kalau KPK menyebutkan proyek Nazarudin ada di Rumah Sakit Unair itu memang iya, tapi bukan Rumah Sakit Pendidikan milik Unair. Melainkan, Rumah Sakit Tropik hibah dari Departemen Kesehatan,” ujar Prof Fendy, Selasa (16/8/2011).

Nazaruddin disebut-sebut terlibat dalam pembangunan RSTI setelah PT Buana Ramosari Gemilang, perusahaan yang terkait dengan jaringan M Nazaruddin itu diketahui sebagai pemenang tender pengadaan peralatan kesehatan.

Berdasarkan data di laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kementerian Kesehatan pada 2010, lelang pengadaan peralatan kesehatan dan laboratorium itu dimenangkan PT Buana. Nilai proyek tersebut sama dengan penawaran, yakni Rp 38,8 miliar.

Selain itu, PT Exartech Technologi Utama (ETU) sukses menyabet tender senilai Rp 38,7 miliar. PT Duta Graha Indah (DGI), yang salah satu petingginya, Muhammad el Idris, menjadi tersangka kasus suap wisma atlet di Palembang, juga memenangi tender pengadaan jasa pemborongan pembangunan Gedung RSTI Unair senilai Rp 97,8 miliar.

Menurut Prof Fendy, proses tender tersebut diatur oleh Kementerian Kesehatan. “Kami hanya terima hibah barang jadi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, status rumah sakit tersebut belum jelas, masih dalam pembicaraan antara Unair dan Kementerian Kesehatan. “Kami tidak ada anggaran untuk mengoperasikan rumah sakit,” kata Fendy.

Saat ini, pembanguan RSP dan RSTI yang dibangun bersebelahan di Kampus C Unair Mulyorejo itu dalam proses perampungan. Dan kedua rumah sakit berada dalam satu kompleks dengan laboratorium BSL-3 dan Institute of Tropical Disease (ITD).

Dikatakan Prof Fendy, RSP, RSTI, ITD dan BSL-3 itu nantinya akan difokuskan pada keperluan penelitian penyakit tropik infeksi. Terutama yang banyak berjangkit di Indonesia. RID/LI-10