LENSAINDONESIA.COM: Berbentuk kuali namun ukuran lebih kecil. Sekilas cara membuatnya gampang. Tidak sampai tiga menit adonan tanah liat bercampur pasir ini sudah terbentuk. Lantas, dijemur dihalaman rumah. Itulah cara membuat gerabah, yang kini mulai tergerus zaman.

Apalagi, musim kemarau dipertengahan bulan ramadhan ini membuat proses pengeringan semakin cepat. Namun jangan salah, jika cepatnya proses produksi tersebut hanya bisa dihasilkan oleh tangan-tangan terampil.

Jenis gerabah ini telah menjadi kegiatan sampingan warga Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, sejak puluhan tahun silam. Sejak dulu, bentuknya hampir tidak ada perubahan. “Memang untuk tempat ikan pindang, ya seperi ini,” ujar Warti, salah seorang pengrajin.

Karena peruntukannya yang khas, produk ini mengalir ke berbagai wilayah perkampungan nelayan Pantai Utara. Tidak hanya di Tuban, namun juga melebar ke Lamongan dan Rembang, Jawa Tengah. Meski bentuknya sederhana, namun jenis gerabah bentuk seperti ini sulit digantikan bahan lain, misalnya dari plastik. “Rasanya khas, dan menyerap air. Sehingga, ikan tampak kering,” tambah Warti.

Namun, hubungan mutualisme antara perajin gerabah dengan pembuat ikan pindang ternyata kembang kempis alias ‘naik turun’ belakangan ini. Kalau pembuat ikan pindang tergantung hasil jaringan dari nelayan. Sedangkan, perajin gerabah saat ini disulitkan dengan persediaan bahan bakar. Tungku pemanas milik mereka memang sudah termodifikasi memakai bahan bakar dari kayu dan sejenisnya. “Mungkin karena murah, yakni sebuah cuma Rp 150,” jelas perajin gerabah.

Sulitnya stok kayu bakar, seperti yang terasakan saat ini menjadi momok bagi perajin. Mereka akhirnya membeli apa saja, mulai dari ranting, sampah daun hingga jerami kering. Tidak salah jika stoknya tidak selalu tersedia. “Untungnya, jalinan kerjasama dengan pembeli sudah dari dulu. Sehingga, tidak masalah kalau telat,” tegas perajin.

Meski permintaan tidak anjlok, ternyata jumlah pengrajin semakin menipis. Ternyata, selain faktor semakin berkurangnya bahan bakar, tangan-tangan generasi penerusnya sudah mulai enggan berlepotan dengan tanah liat. “Saat ini bisa dihitung dengan jari,” tutur Kasmo, tokoh masyarakat wilayah setempat. JAN/LI-10