LENSAINDONESIA.COM: Mabes Polri telah menerima data sidik jari Neneng Sri Wahyuni, tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kemenakertrans tahun anggaran 2008.

Data berupa sampel sidik jari istri M. Nazaruddin tersebut diterima dari KPK untuk melengkapi administrasi permohonan bantuan penangkapan internasional atau red notice ke Interpol yang berkantor pusat di Lyon Prancis.

“Sudah dikirim (dari KPK) dan sekarang dalam proses,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjenpol Anton Bahrul Alam melalui pesan singkat kepada wartawan, Jumat (19/8/2011).

Sampel sidik jari Neneng tersebut penting untuk diterima kepolisian. Pasalnya, belum diterimanya sampel sidik jari Neneng sempat menjadi alasan hingga kini Polri belum melayangkan red notice atas Neneng.

Menurut Anton, setelah sampel sidik jari diterima, rencananya permohonan akan dikirimkan ke Kantor Pusat Interpol di Lyon, Perancis, pada Senin pekan depan. Yang secara prosedur data Neneng akan disebarkan ke seluruh anggota Interpol di 188 negara.

Seperti diketahui, Neneng Sri Wahyuni resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan dan supervisi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Keme naker Trans tahun anggaran 2008. Penetapan tersangka dilakukan sejak awal Agustus lalu.

Neneng dijerat dengan sangkaan pasal berlapis tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Pasca-penangkapan  Nazaruddin, tidak ada yg mengetahui dengan pasti keberadaan Neneng, KPK sempat menduga Neneng berada di Malaysia untuk menemui anaknya.

Polri melalui Kepala Divisi Humas Polri Irjenpol Anton Bahrul Alam pernah membenarkan, bahwa pada saat penangkapan Nazaruddin, Neneng berada di Kolombia. Namun dengan alasan Neneng belum menjadi buronan, ia tidak ikut diseret ke tanah air.ram/LI-07