LENSAINDONESIA.COM: Tidak seperti biasanya, hari-hari menjelang datangnya malam Lailatul Qodar pesarean Mbah Ud (KH. Ali Mas’ud), salah satu waliyulloh yang ada di desa Pagerwojo Buduran Sidoarjo ramai dikunjungi warga.

Di samping berziarah untuk mendoakan sang wali, para pengunjung yang mayoritas berasal dari kawasan Sidoarjo tersebut juga berharap berkah dari Allah dalam menyambut datangnya malam Lailatul Qodar, suatu malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Menurut keyakinan umat muslim, sepuluh hari di malam terakhir bulan Ramadhan adalah malam utama yang mempunyai makna luar biasa bagi kehidupan spiritual masing-masing umat. Di malam ini pula segala keutamaan berkah dan rahmah Allah diturunkan kepada hamba yang dikehendakiNya.

Agar memperoleh keberkahan tersebut maka setiap umat muslim dituntut untuk berlomba-lomba dalam melakukan kegiatan spiritual agamanya dalam menyambut malam Lailatul Qodar. Misalnya, dzikir di masjid, do’a bersama di pesarean para waliyulloh, sholat tahajud malam danlain-lain.

Dalam pantauan di lapangan, para pengunjung yang terdiri dari orang tua, pemuda, anak-anak, remaja baik laki-laki maupun perempuan sedang melakukan dzikir bersama, disamping membaca Al-Quran di area pesarean. Sebagian yang lain pun juga ada yang hanya duduk santai di teras masjid.

Khuzaimi Syakar, salah satu peziarah yang juga ketua dari desa Kedungcangkring yang juga sebagai ketua MWC NU Jabon Sidoarjo merasa cocok dengan melakukan dzikir di area pesarean Mbah Ud. Menurutnya, Mbah Ud adalah salah satu waliyyulloh yang sangat terkenal kewaliannya diantara para wali yang ada di tanah Jawa.

“Ibarat rumah, Mbah Ud inilah yang mempunyai kunci Sidoarjo.”tuturnya kepada LIcom, Sabtu (20/8).jani/LI-07