LENSAINDONESIA.COM: Banyak cara agar kita lebih mengenal kebudayaan dan Sejarah Indonesia, salah satunya dengan cara mengunjungi Museum bersejarah yang berada di setiap kota dan daerah di Indonesia.

Kunjungan ke museum mungkin bagi generasi sekarang menjadi aktivitas langka. Padahal ini bisa menjadi penambah wawasan kesejarahan dan bekal mereka di masa mendatang.

Salah satu museum yang juga layak Anda lirik di Jakarta adalah Museum Purna Bhakti Pertiwi. Museum ini berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indonesia Indah (TMII) yang merupakan warisan sejarah masa Orde Baru.

Museum Purna Bhakti Pertiwi didirikan atas prakarsa Ibu Tien Soeharto sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME dan penghargaan yang tinggi atas dukungan Masyarakat Indonesia dan mancanegara kepada Bapak Presiden kedua, HM. Soeharto.

Dengan arsitekturnya yang mirip nasi tumpeng atau gunungan (sebagai kelengkapan inti upacara tradisional) itu juga melambangkan rasa syukur, keselamatan dan keabadian yang diharapkan dari museum ini.

Meski Orde Baru ini memiliki kisah kelam di negeri ini, namun, ada sisi unik dan menarik yang ada di museum ini. Di salah satu ruangan museum ini terdapat koleksi berbaga benda unik yang merupakan cinderamata yang diberikan oleh para kepala negara dan kepala pemerintahan dari seluruh negara di belahan bumi ini. Benda-benda itu tentu istimewa dan punya nilai khusus yang sengaja diberikan sebagai penghargaan kepada bangsa Indonesia, melalui presiden SOeharto yang saat itu berkunjung.

Cinderamata yang istimewa, unik dan sangat beragam ini adalah bagian dari kisah spesial selama kepemimpinan Soeharto di era Orde Baru yang berlangsung sekitar 30-an tahun memimpin.

Sebelumnya sebagian besar koleksi cinderamata ini dirawat dan disimpan Alm. Ibu Tien Soeharto sebagai pendamping setia Pak Harto. Kemudian, Ibu Tien menyadari bahwa pengalaman hidup Pak Harto bukanlah hanya milik keluarga. Pak Harto adalah milik bangsa Indonesia. Maka, koleksi barang-barang pribadi dan cinderamata yang dimilikinya juga layak dinikmati oleh khalayak ramai. Tentu, tempat yang paling baik untuk itu adalah di museum.

Dibangun oleh Yayasan Purna Bhakti Pertiwi selama 5 tahun (1987 s/d 1992), museum ini terletak di atas areal seluas 19,73 ha dalam kawasan TMII dan diresmikan pembukaannya pada tanggal 23 Agustus 1993 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.

Bangunan Museum Purna Bhakti Pertiwi terdiri dari beberapa ruangan, yaitu Ruangan Utama, merupakan Sejarah Bapak Soeharto Pada Masa Pra Kemerdekaan, Masa Kemerdekaan, Masa Mempertahankan Kemerdekaan Sampai Operasi Mandala, Periode G 30. S/PKI Hingga Pelantikan Sebagai Presiden dan Program Pelita I-IV.

Kemudian Ruangan Perjuangan, merupakan Koleksi Keluarga Bapak dan Ibu Soeharto. Berbagai macam koleksi cendramata dari Kepala Negara dan Kepala Pemerintah berasal dari seluruh Benua di Dunia.

Ruangan Khusus, merupakan Koleksi Medali Dari Mancanegara, Tanda Kehormatan Yang Di Terima Bapak Soeharto  dan Ibu Tien Soeharto, dan Koleksi Bapak Soeharto seperti Keris, Pisau Belati, Pedang, Badik, Senjata tradisional dari Nias (Sumatra Utara), dan Kapak.

Ada cinderamata pemberian PM Kamboja Hun Sen dan PM Malaysia, Mahathir Mohamad masing-masing berupa tempat sirih terbuat dari perak. Dari PM Belanda Lubbers berupa patung burung dara terbuat dari perak, Presiden Meksiko Carlos Salinas de Gortari berupa kerajinan perak berbentuk labu, dan Presiden Kazakstan Nursultan Nazarbayev berupa seperangkat piring perak.

Di ruang utama juga terdapat replika Peraduan Putri Cina. Replika ini terbuat dari batu giok-jadeite berwarna hijau dan berasal dari Propinsi Yunan, Cina. Konon ini tiruan peraduan putri Cina pada masa Dinasti Sung (960-1279) dan Dinasti Ming (1384-1644). Ada juga berbagai benda lain, semisal gading gajah yang unik dengan ukiran khas, lukisan, keramik, dan guci yang juga pernah menjadi guci tertinggi di dunia, sekitar 3,88 m dari China.

Ada sekitar 12.000 buah benda koleksi yang sangat beragam dan unik dari berbagai belahan bumi. Ada juga koleksi dari rekan kerja dan pejabat daerah yang juga tersebar di seluruh penjuru tanah air yang juga khas dan unik.

Di halaman Museum Purna Bhakti Pertiwi terdapat juga sebuah kapal perang KRI Harimau (bukti sejarah perjuangan pembebasan Irian Barat/Irian Jaya tahun 1962). Ada juga koleksi lain berupa berbagai tanda kehormatan yang pernah diterima mantan presiden Soeharto. Tanda kehormatan dari beberapa negara sahabat, dari Uni Emirat Arab, Brunei Darussalam, Singapura, Jepang, dan lain-lain. Di Ruang Khusus ini pula tersimpan koleksi pedang kehormatan yang di antaranya dipersembahkan oleh Pemimpin PLO, Yasser Arafat dan pedang kristal dari Presiden Kroasia, Franjo Tudman.

Dalam kunjungan www.today.co.id, penulis juga diterima dan ditemani langsung oleh Santoni Sastro,SS, kepala Seksi Humas & Pemasaran Museum Purna Bhakti Pertiwi. Sebuah kunjungan yang penuh kenangan unik dari beragam benda bersejarah dan koleksi dari berbagai dunia. Bagaimana? Anda juga tertarik untuk melihatnya? imm/LI-07