LENSAINDONESIA.COM: Mendiknas membangun pusat pendidikan (Learning Centre) untuk anak-anak TKI di Malaysia yang berada di tempat terasing.

“Puluhan ribu TKI ini telah bertempat tinggal disini selama belasan tahun. Bahkan, beberapa diantaranya sampai 20 tahun. Dan sebagian besar dari mereka bekerja di ladang sawit,” ujar M Nuh, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Minggu (21/8/2011) di Tawau Malaysia.

Menurut M Nuh, para TKI ini mengeluhkan sulitnya mendapatkan pendidikan, karena berada di tempat terasing, yakni di tengah-tengah kebun sawit yang jauh dari sarana pendidikan. Berangkat dari keluhan itu, kini dibangun beberapa Pusat Pendidikan (Learning Centre) di kebun sawit Malaysia.

Bahkan, ada kebijakan agar perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan TKI dari Indonesia, harus menyediakan fasilitias untuk putra putri mereka.

“Saat ini telah dibangun Learning Centre yang ada di kebun-kebun sawit. Learning Centre tersebut mengajar mulai dari SD hingga SMP dan tenaga pengajarnya dikirim dari Indonesia dan sebagian dari pengajar Indonesia yang telah ada di Malaysia,” ujarnya.

M Nuh mengatakan, saat ini di Kinabalu sudah dibangun sekolah Indonesia, yang merupakan sekolah induk. Bangunannya besar, bagus dan sudah permanen. Sekolah itu merupakan sekolah satelit (Pusat).

“Jadi sistematikanya adalah para siswa yang telah belajar di Learning centre, ijazah mereka adalah ijazah sekolah Indonesia. Sehingga, bisa digunakan di sekolah manapun di Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, untuk siswa yang akan melanjutkan ke tingat SMA/SMK, pemerintah Indonesia telah membangun sebuah sekolah SMK di Sebatik, yang hanya berjarak 15 menit dari Tawau. Di sekolah itu juga terdapat asrama dan perumahan guru. Dengan begitu, semakin memudahkan bersekolah tanpa harus susah payah mengurus paspor dan lain-lain.

Ditanya soal gaji tenaga pengajar, M Nuh mengatakan, jika hal itu memang cukup besar, yakni sekitar Rp 15 juta atau sekitar 5 ribu ringgit. “Ini sebagai kompensasi kepada mereka yang telah sukarela membantu mengajar, karena mereka telah meninggalkan keluarga dan kehidupan mereka di Indonesia untuk mengabdi disini,” ujar M Nuh.

Selain itu, para pengajar ini juga kontraknya akan diperbarui 2 tahun sekali. “Kita juga memberikan BOS untuk para siswa ini,” tambah M Nuh.

Dalam kesempatan safari ramadhan tersebut Mendiknas juga meresmikan Universitas Borneo. IAN/LI-10