LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, mengemukakan, akan terus melakukan intervensi distribusi sembako dengan menggandeng sejumlah pabrik untuk memperpendek rantai perdagangan komuditas.

Menurut Soekarwo, pola tersebut sangat efektif untuk mengantisipasi lonjakan harga sembako menjelang Lebaran. Sebab, langkah potong kompas ini telah memberikan hasil yang signifikan. Setidaknya, terjadi efisiensi di tingkat biaya transportasi hingga Rp250 miliar.

“Pabrikan yang kita gandeng adalah produsen minyak goreng, terigu, gula dan Bulog untuk operasi pasar. Dengan sistem subsidi transportasi untuk memotong rantai perdagangan telah membuat harga sembako menurun,” ujar Soekarwo di Kantor Gubernur Jl Pahlawan Surabaya, Selasa (23/4/2011).

Berdasarkan hasil survey ke sejumlah pasar di beberapa kota dan kabupaten di Jatim, harga beras mengalami penurunan rata-rata Rp 300 per kg. Harga terigu turun dari Rp 7.000 per kg menjadi Rp 6.700 per kg. Begitu juga dengan minyak goreng turun antara Rp 200 per kg hingga Rp 300 per kg.

“Harga ayam kampung dan daging sapi yang masih tetap tinggi, namun relative stabil, yakni daging sapi berkisar Rp 55.000 hingga Rp 60.00 per kg. Ayam kampung tetap di kisaran Rp 40.000 per kg,” ujarnya.

Menurutnya, stabilitas daging sapi karena Jatim masih kelebihan pasokan sebesar 9.000 ton per tahun. Namun, tandas gubernur, intervensi itulah yang ternyata memiliki peran penting untuk mendorong penurunan harga atau mempertahankan stabilitas harga sembako. “Jika uji coba system tersebut berhasil Jatim akan meneruskan kebijakan tersebut,” tandas Soekarwa.

Dia menilai kebijakan tersebut akan efektif untuk mengantisipasi gejolak harga didalam negeri akibat penerapan pasar bebas. “Harga di pabriknya tetap sehingga tidak berdampak pada industrinya, tetapi hanya memperpendek rantai distribusinya” tegasnya. rid/LI-10