LENSAINDONESIA.COM: Di tengah eforia kemenangan pemberontak yang berhasil menduduki Tripoli, mereka tak bisa menjawab sebuah pertanyaan penting, yakni dimana Khadafi?

Sebelumnya suara Muammar Khadafi terdengar melalui rekaman audio singkat pada Minggu malam menanyakan tentang kejatuhan Tripoli dan mengingatkan akan Baghdad kedua. “Bagaimana kalian bisa membiarkan Tripoli dibakar?”

“Kenapa kau membiarkan Tripoli, berada di bawah pendudukan sekali lagi?” katanya.

“Para pengkhianat adalah membuka jalan bagi pasukan pendudukan yang akan segera dikerahkan ke Tripoli.”

Tidak jelas apakah Khadafi masih berada di Tripoli, khususnya di kawasan al-Aziziyah yang dipertahankan mati-matian oleh pendukungnya. Atau diam-diam dia justru telah ditangkap seperti Saif al-Islam, anaknya.

Rumor yang berkembang Khadafi melakukan negosiasi hari Senin dengan pejabat-pejabat Afrika Selatan namun rincian pembicaraan mereka tidak jelas.

Tak hanya Khadafi yang keberadaanya tak diketahui, pejabat-pejabat seniornya juga tak nampak dimanapun. Begitu juga tiga anaknya yang tersisa, Hannibal, Mutasim dan Khamis juga belum ditemukan.

Hannibal perannya kecil dalam politik, namun Khamis adalah pemimpin unit pasukan elit yang ditakuti dan berperan besar dalam menumpas protes, sementara Mutasim adalah seorang perwira tentara dan penasehat keamanan bagi ayahnya.

Selain mereka, Abdullah al-Sanussi, kepala intelijen Khadafi dan kakak iparnya, tampaknya juga menghilang dari ‘mata’ pemberontak.

Terakhir terlihat di Hotel Rixos Tripoli pada hari Minggu, ketika ia mengatakan kepada wartawan asing bahwa, “Intelijen Barat bekerja bersama Al-Qaeda untuk menghancurkan Libya,” katanya.sk/lib/LI-07