LENSAINDONESIA.COM: Sekjen Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem) Andrianto menduga ada kamuflase terkait pernyataan Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan M Jasin yang menyatakan KPK kerap diintervensi DPR.

“Jangan-jangan soal intervensi hanya kamuflase KPK untuk menarik simpati publik, di tengah ketidakmampuan institusi pemberantas korupsi tersebut, termasuk dalam penuntasan kasus besar seperti kasus Nazaruddin,” ujarnya  saat dikonfirmasi LIcom, di Jakarta,  Selasa, (23/8/2011).

Yang paling penting, menurut mantan Ketua Presidium Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusian dan Keadilan (Humanika) ini adalah, bagaimna KPK bisa menunjukkan integritas melalui penyelesaian perkara kakap, seperti penutasan Skandal Century, BLBI, ‘rekening gendut’ pejabat, dan kasus terbaru yang melibatkan mantan Bendahara Umum Demokrat, M. Nazaruddin.

“Kami tentu menaruh optimis dan mendorong pimpinan KPK baru yang sedang memasuki tahap fit end proper test di DPR, agar tidak mengecewakan publik dengan menunjukkan integritas melalui kinerja,” lanjutnya.

Setidaknya, kata Andre ada tiga kasus besar yang menjadi agenda PR dan harus di tuntaskan oleh calon pimpinan KPK baru, agar dapat memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi komisi pemberantasan korupsi (KPK) yang dianggap superbody tersebut.

“Parameternya adalah keseriusan KPK menyelesaikan tiga agenda kasus dan perkara besar, seperti Skandal Century, BLBI, Korupsi Wisma Atlet Palembang dengan ‘nyanyian’ Nazaruddinnya. Itu yang menjadi perhatian masyarakat untuk saat ini dituntaskan,” tegas Andrianto.

Seperti diberitakan, Jumat, (19/8/2011) lalu,  Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan, M Jasin menyatakan pihaknya kerap mendapat intervensi dari DPR dan pihak pihak lain, termasuk pemerintah, saat menangani sejumlah kasus korupsi.esa/LI-07