LENSAINDONESIA.COM: Kegiatan uji seismic di perairan utara wilayah Kabupaten Tuban yang dilakukan oleh PT Camar Resources Canada (CRC) dalam empat bulan terakhir ini ternyata tidak banyak diketahui oleh aparat Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat.

Nyatanya, instansi ini tidak mengetahui soal pro kontra berkaitan dengan proses ganti rugi kepada nelayan yang kehilangan rumpon dalam kegiatan tersebut.

Hal ini dikatakan Ir. Sri Pandoyo, Kepala BLH Tuban. Menurut dia, pihaknya sempat diikutkan dalam acara sosialisasi namun dalam proses kelanjutannya tidak dilibatkan, ataupun mendapatkan informasi resmi dari PT CMC.

“Kita tidak dilibatkan, jadi kondisi sekarang juga tidak tahu. Silakan tanya saja ke dinas perikanan dan kelautan,” tutur Sri Pandoyo.

Kegiatan uji seismic yang dilakukan oleh PT CRC masih menyisakan persoalan. Tidak hanya masalah ganti rugi bangunan rumpon, namun berekses memicu ketegangan antar nelayan. Kondisi saat ini nelayan tidak lagi menjaring ikan di sekitar rumpon ‘miliknya’, namun juga mengambil hasil laut tersebut ‘dilahan’ nelayan lain.

Rumpon atau rumah ikan di laut bisa diibaratkan ‘sawah’ bagi para nelayan. Bangunan yang dibawah air berisi batu-batuan dan sejenisnya itu dibuat kelompok ataupun pribadi nelayan. Tanda-tanda yang terlihat dari permukaan air adalah batangan bambu. Batangan inilah sekaligus menjadi pertanda, semacam hak milik.

Uji seismik yang bertujuan untuk meneliti kandungan minyak bumi ini terpaksa membabat rumpon. Batangan bambu dipotong hingga tidak terlihat dari permukaan

air laut. Dampaknya, jarring milik nelayan rusak karena tersangkut batangan bambu yang tidak terlihat tersebut. PT CMC memang memberikan ganti rugi dengan besaran Rp 1 juta setiap rumpon.

Sayangnya, data rumpon milik nelayan berbeda dengan catatan aparat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Tuban. Salah seorang pengurus paguyuban

nelayan yang juga anggota Komisi A DPRD Tuban, H Dodyk Fachruddin sementara ini mengaku terus dibanjiri keluhan para nelayan. “Saya masih mempelajari kondisinya,” tutur Dodyk singkat.jan/LI-07