LENSAINDONESIA.COM: Belum genap tiga bulan kepemimpinan Djohar Aripin Husein sebagai Ketum PSSI 2011-2015 dalam “revolusi sepak bola nasional”, ketimpangan dan sifat arogansi sudah mulai kelihatan di tubuh PSSI.

Bahkan orang-orang yang duduk di bidangnya masing-masing dan menjabat sebagai ketum maupun manager seolah-olah tak ambil pusing. Mereka duduk  di sana karena balas jasa telah berhasil menggulingkan Rezim status quo Nurdin Halid.

Janji revolusi untuk membawa persepak bolaan nasional ke arah koridor yang semestinya menurut La Nyalla sebagai Anggota tim Executiv Comitte hanya isapan jempol belaka, bahkan beberapa keputusan yang tak signifikan tersebut dinilai sudah menciderai rencana untuk membangun sepak bola Nasional kearah yang lebih baik lagi.

“Revolusi PSSI harus ditegakan kembali, jangan sampai kepemimpinan Djohar hanya sebagai boneka saja tanpa bisa mengembalikan sepak bola yang semestinya.sudah banyak contoh keputusan Djohar dinilai tidak mencerminkan tindakan fair play, saya sebagai anggota komite Exco selama ini tak pernah dilibatkan dalam memutuskan sesuatu yang berkenaan dengan sepak bola nasional,” ungkap Nyala saat mengahdiri buka bersama dengan staf dan atlet KONI Jatim, Kamis (25/8).

Yang dimaksud Nyala, Djohar membuat keputusan sepihak karena penunjukan beberapa tokoh sepak bola yang langsung ditunjuk oleh Djohar tanpa melalui rapat Exco terlebih dahulu.

“Contoh penunjukan pelatih timnas Indonesia, jangan karena waktu yang mempet kita diabaikan begitu saja. Lha kita dipilih berdasarkan suara terbanyak anggota PSSI seluruh Indonesia, buat apa dibentuk tim Exco kalau semuanya diputuskan secara sepihak dan tidak fair play lagi,” tambahnya.

Menurut pria yang juga Ketua Kadin Jatim ini bahwa penunjukan Wim Risrbergen sebagai pelatih timnas telah menyalahi pasal 37 statuta PSSI dan tidak melalui rapay Exco.

“Selama saya duduk sebagai anggota Exco hanya dua kali diajak rapat oleh Ketum PSSI, kalau semuanya diputuskan sendiri tak menutup kemungkinan PSSI akan melakukan KLB (Kongres Luar Biasa) demi menegakan kebenaran dan tidak mementingkan golongan,” urainya.

Nyala menginginkan bahwa Exco selam ini tak difungsikan dengan benar oleh Djohar, dan keputusan yang diambil semuanya beralasan kepentingan yang mendesak. Termasuk rencana Ketum PSSI yang akan memberikan jabatan ketua Badan Liga Indonesia ke tangan Saleh Ismail Mukadar.

Masih ada lagi keputusan yang tak melibatkan tim Exco yang berdampak pada keikut sertaan sebuah tim dalam mengikuti Liga Profesional yang digela roleh PSSI, bahkan niatan PSSI yang rencananya memberlakukan merger antara tim peserta Liga Primer Indonesia dengan Indonesia Super Liga.

“Kalau klub harus menyerahkan uang sebesar Rp 5 miliiar dan dampaknya tak merugikan saya akan mendukung. Namun jangan karena harus professional dalam financial kepentingan klub jadi korban dan yang bersangkutan tak bias ikut kompetisi,” cetusnya.cat/LI-07