Prostitusi online terselubung tidak hanya dilakukan oleh kalangan gadis-gadis muda. Beberapa pria yang tanggap dengan kondisi ini memanfaatkan Facebook sebagai ajang prostitusi. Orang-orang seperti ini dalam dunia perlendiran disebut makelar.

———————————–

Mereka-mereka ini kerjaannya mencari mangsa untuk memasarkan dagangannya. Tidak tanggung-tanggung dagangannya itu berupa manusia. Yah, berbagai cara dilakukan untuk menjerat gadis-gadis muda untuk kemudian dijual ke orang.

Karena Facebook lagi booming dan transaksinya dinilai aman, mereka pun tak ayal mulai berlomba-lomba mendapatkan calon klien melalui online.

Di Jombang, yang namanya trafficking pernah terjadi. Seorang gadis ABG asal desa Mojoduwur kecamatan Mojowarno, Jombang tiba-tiba menghilang selama 10 hari. Kuat dugaan, gadis berambut sebahu ini dibawa lari oleh seorang lelaki yang baru dikenalnya lewat facebook.

Saat itu Muhammad Solahudin, Pjs Direktrur WCC (Women Crisis Centre) Jombang, pihaknya sedang menelusuri keberadaan gadis yang masih berusia 16 tahun tersebut. Berdasarkan informasi, gadis yang bernama Rohmatul Latifah Asyhari ini kerap menggunakan facebook sebelum menghilang. Parahnya, dari diary milik Latifah diketahui bahwasannya ia sedang patah hati.

“Kemungkinan ia dibawa lari dan dijual oleh seseorang yang dikenalnya lewat facebook. Selain terus melakukan investigasi, kami juga sudah melaporkan perihal hilangnya Latifah ke Polres Jombang dengan didampingi orang tuanya,” kata Solahudin ketika itu.

Setelah diusut, ternyata Latifah dibawa lari oleh seorang laki-laki ke Jakarta untuk dijadikan pelacur. Murid SMA Negeri Jogoroto ini sempat menelpon kakaknya. Namun keluarga tidak percaya begitu saja, mereka curiga anaknya menjadi korban perdagangan anak. Sebab, Latifah sempat menceritakan bahwasannya suaminya tidak bekerja namun mempunyai banyak anak buah. Sayangnya, nomor telepon milik Latifah tidak pernah bisa dihubungi lagi. Ia selalu berganti momor.

Setelah dilakukan pengusutan, akhirnya tersangka kasus traficking tertangkap, yakni Anis Asmara (41), dan diperiksa di Polres Jombang. Dari pemeriksaan itu diketahui tersangka mengantongi banyak KTP (Kartu Tanda Penduduk). Beberapa KTP yang dikantongi Anis adalah Surabaya, Bali, Tebet Jakarta, dan Situbondo.

Dari tangan tersangka, petugas juga menyita dua unit hand phone keluaran terbaru. Dua peralatan komunikasi itulah yang selama ini digunakan Anis untuk memperdayai korbannya, baik melalui situs facebook maupun SMS (Short Massage Service). Sehingga, melalui media internet dan ponsel inilah pelaku menjerat korbannya.

Peristiwa Latifah ini terjadi pada tahun lalu, dan sempat menjadi perhatian publik. Perdagangan anak di bawah umur yang menjurus ke prostitusi melalui dunia maya diakui Kasat Reskrim Polwiltabes Surabaya AKBP Anom Wibowo sudah sangat memprihatinkan.

Fenomena perdagangan manusia beberapa diungkap jajaran Polwiltabes Surabaya, 31 Januari 2010 lalu. Saat itu polisi menangkap dua tersangka, yakni Endry Margarini alias Vey, 21, dan Achmad Afif Muslichin, 32, keduanya warga Sidoarjo. Selain itu, seorang gadis berinisial Ls,15, warga Keputran, Surabaya, juga ikut diamankan.

Vey selama ini bertugas sebagai germo dari anak-anak yang diperdagangkan, sedangkan Afif bertugas mencari customer atau lelaki hidung belang. Sementara, Ls bertugas mencari gadis muda.

“Pertama kali diketahui transaksi digelar di sebuah rumah makan cepat saji di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya,” jelas Anom saat itu.

Dalam kasus tersebut, polisi juga meminta keterangan terhadap tiga pelajar yang menjadi korban trafficking, masing-masing berinisial Ft, El, dan Rs. Dengan terungkapnya kasus tersebut, Anom meminta kepada orangtua agar lebih waspada dalam mengarahkan anak gadisnya yang menginjak dewasa.

Anom mengungkapkan, menguak jaringan trafficking memang bukan persoalan mudah. Dibutuhkan kesabaran dan informasi yang cukup untuk menelusurinya. Pasalnya, prostitusi seperti yang dijalankan Vey dan Afif cukup terorganisir dan dilakukan dengan sangat rapi. Ini jelas berbeda dengan prostitusi biasa yang kasatmata dan mudah melacaknya. Keberadaan account di Facebook baru diketahui setelah mereka tertangkap.

“Itu artinya, mereka selama ini berupaya keras agar aksi mereka tidak diketahui dunia luar. Walaupun akun di Facebook bisa diakses semua pengunjung tapi tak semua orang mengetahui di balik itu ada bisnis prostitusi,” papar Anom.

Yang lebih memprihatinkan, banyak sindikat tersebut menjadikan pelajar perempuan sebagai korbannya. Awalnya, berdasarkan pengakuan Vey, dirinya hanya iseng mencari perempuan untuk sejumlah rekannya yang hidung belang.

Dari situlah ia mulai mengetahui ternyata banyak customer yang menyukai gadis muda, terutama pelajar. Akhirnya, dia bekerja sama dengan Afif untuk mencari pelajar yang mau ‘menjual’ tubuhnya. Kemudian mereka merekrut Ls yang bertugas mencari sasaran di lingkungan sekolah. Ls hanya menggunakan strategi sederhana untuk merekrut anggota baru, yakni menawarkannya dari mulut ke mulut.

Nyatanya, strategi itu cukup untuk menarik minat beberapa gadis. “Biasanya kita mengenakan tarif Rp600–800 ribu untuk setiap gadis. Harga itu memang agak mahal karena mereka masih muda dan berstatus pelajar,” ungkap Vey. Ia memilih memasarkan lewat Facebook karena lebih mudah, murah, dan praktis.

Harus diakui, Vey dan Afif cukup melek teknologi. Mereka tak lagi menawarkan ‘dagangan’ secara lisan, tetapi tinggal memampang foto-foto para gadis di akun mereka. Bagaimanapun, sistem marketing mereka terbukti jitu dan menarik pelanggan yang tak sedikit.bersambung/LI-07