LENSAINDONESIA.COM: Advokat yang mendadak terkenal gara-gara Nazaruddin. Dia adalah Dea Tungga Esti, salah satu kuasa hukum Nazaruddin dari Law Firm OC Kaligis, yang kerap muncul di televisi untuk membela mantan Bendahara Umum (Bendum) Partai Demokrat.

Sosok Dea menjadi beda, karena selain habis-habisan membela Nazaruddin, Dea merupakan advokat yang berparas cantik bak seorang artis. Sangat jarang, seorang advokat berparas menawan seperti Dea.

Lantas, siapakah sebenarnya Dea?

Dea lahir di Solo, Jawa Tengah, 28 tahun yang lalu, tepatnya pada 26 September 1982. Dia menamatkan pendidikan sarjana hukumnya di Universitas Pelita Harapan Tangerang. Kemudian, melanjutkan pendidikan Magister Ilmu Hukum di Universitas Gajah Mada (UGM) 2007 silam. Dan mengambil gelar doktor di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Dea memilih Kantor Hukum OC Kaligis dan Associates sebagai tempat menimba ilmu beracara di pengadilan.

Pilihan berprofesi sebagai advokat bukan tanpa alasan. Ini karena pertalian kekeluargaan Dea dengan OC sudah terjalin sejak lama.

“Ia (OC Kaligis) merupakan kerabat jauh suami saya (Nevio Parodi). Saya pun sering bertemu saat di kampus ketika Pak OC jadi dosen tamu dan di acara keluarga,” ungkapnya.

Karir keadvokatan Dea pun dimulai ketika bergabung dengan OC. Sebelum menangani kasus Nazaruddin, Dea menangani kasus Yayasan Presiden Soeharto, kemudian sempat juga menangani kasus Djoko Chandra dan terakhir kasus Aguswandi Tanjung yang dipindana karena kasus dugaan pencurian listrik.

Dea sendiri mengaku sangat kaget dengan apresiasi masyarakat terhadap dirinya. “Saya berharap saya bisa bekerja profesional dan berguna,” jelasnya.

Ditengah kesibukannya menjalankan profesinya sebagai pengacara, ibu rumah tangga yang kini masih mengejar gelor Doctor ini mengaku, sang suami dan kedua anaknya selalu setia mensuport apa yang dilakukan Dea.

“Masih bisa kok (membagi waktu). Kebetulan saat ini kuliah (S3) saya sudah selesai, sekarang tinggal menyiapkan bahan-bahan untuk tulisan. Kalau ada waktu suami saya menemani saya (mengumpulkan bahan-bahan tulisan),” ujarnya.

Meski sesibuk apa pun, menurut Dea, keluarga tetap menjadi prioritas. Meskipun, harus mengorbankan waktu waktu senggangnya untuk berbagi dengan keluarga

“Buat saya keluarga segala-galanya. Kalau ada waktu weekend saya manfaatkan untuk keluarga,” ujar Dea. ARI/LI-10