LENSAINDONESIA.COM: Momen datangnya pemudik saat menjelang lebaran dari luar daerah terutama yang menggunakan kendaraan umum tidak disia-siakan warga desa, terutama yang berada di wilayah pelosok.

Warga masyarakat yang memiliki kendaraan roda dua, apapun profesinya, mendadak jadi tukang ojek. Kondisi  ini makin marak ditunjang dengan minimnya transportasi umum yang setiap saat bisa menjelajah wilayah pedesaan..

Hal ini terjadi di wilayah Kabupaten Tuban. Mulai diwilayah Kecamatan Kota Tuban, sekitar perempatan patung Letda Sucipto hingga pelosok diwilayah Kecamatan Parengan. Jumlah kendaraan roda dua yang terparkir diujung-ujung jalan lintas Tuban-Bojonegoro, Tuban-Jatirogo, dan Bojonegoro-Jatirogo dari hari ke hari terus  meningkat.

Suasana persaingan sengit terus terjadi antar mereka. Bagimana tidak, begitu bus ataupun angkutan umum berhenti menurunkan penumpang para pengojek tersebut saling tarik terutama mereka yang mengenal wajah pemudik yang turun. Bahkan, mereka berlarian menghadang bus agar bisa lebih duluan menggaet penumpang.

Tidak salah kalau para pemudik juga kebingunan melihat situasi ini. ‘’Kalau bisa tentu saja pilih orang yang kenal, famili atau tetangga. Hitung-hitung bagi-bagi rejeki,’’ tutur Yanti, pemudik yang bekerja di sebuah toko di Jakarta saat turun di pertigaan Dusun Soto, wilayah Kecamatan Bangilan.

Soal besar kecilnya ongkos, pemudik tidak terlihat menjadi permasalahan. Padahal, tarif yang dikenakan pengojek dadakan ini lebih mahal dua kali lipat. Rata-rata Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu sekali angkat. Meski antara tarif tersebut jarak antarnya tidak begitu jauh. ‘’Paling tidak saya keluarin dua puluh ribu,’’ tambah Yanti.

Hadi, warga Merakurak, salah seorang pengojek dadakan yang sehari-harinya bertani mengaku saat mendekati lebaran termasuk waktu memanen rupiah. Apalagi, saat  ini cuaca tidak mendukung  aktivitas petani. ‘’Lumayan tambah-tambah berlebaran. Kemarau seperti ini kami tidak bisa bercocok tanam karena yang ada lahan tadah hujan,’’ tutur Hadi.

Tidak hanya diujung jalan, tempat mangkal bus jurusan Tuban- Jakarta, ataupun Tuban – Bandung di wilayah Jatirogo dan Bangilan juga menjadi ajang bagi mereka untuk menggaet rupiah.  Tempat-tempat tersebut sejak H-3 laiknya sebuah pasar. ‘’Bagi pemudik tidak perlu takut kehabisan alat transportasi,’’ tutur pengojek lain.

Pantuan Licom, lima tahun lalu bus-bus umum yang membawa para pemudik dari Jakarta, maupun kota-kota di Jawa Barat biasanya diturunkan di pusat kecamatan Jatirogo. Mereka harus sabar untuk menunggu pagi hari apabila bus tiba pada malam hari.

Fasilitas kendaraan umum, berupa MPU maupun kendaraan bak terbuka yang ada kala itu baru mulai beroperasi mulai pagi hari. ‘’Sekarang kapan saja pasti ada pengojek yang siap mengantar,’’ tutur Solikin, tukang ojek asal Jatirogo.jan/LI-07