LENSAINDONESIA.COM: Mundurnya Noato Kan sebagai Perdana Menteri Jepang membuat sejumlah politisi Jepang segera berebut posisi panas itu.

Setidaknya hingga saat ini sudah ada 5 politisi senior dari Partai Demokrat Jepang (DPJ) yang secara resmi mencalonkan diri sebagai kandidat Perdana Menteri menggantikan Naoto Kan yang mundur pada Jumat (26/8).

Dari lima calon kandidat tersebut, Menteri Perdagangan Jepang yang juga merupakan politisi senior DPJ, Banri Kaieda disebutkan memperoleh dukungan dari mayoritas pimpinan DPJ. Meskipun demikian, mantan menteri Luar Negeri Seiji Maehara melalui sebuah jajak pendapat merupakan calon yang paling populer di mata publik Jepang.

Calon Kuat lain selain mantan Menteri Luar Negeri Seiji Maehara dan Menteri Perdagangan Banri Kaieda, adalah Menteri Keuangan Yoshihiko Noda serta Menteri Pertanian Michihiko Kano. Menteri Transportasi Sumio Mabuchi juga berada di jajaran yang siap bersaing dalam memperebutkan posisi tersebut

Hari Sabtu dan Minggu pekan ini, kelima orang itu akan berkampanye untuk bersaing memperebutkan kursi ketua umum DPJ yang hampir pasti sekaligus akan langsung menjadi Perdana Menteri Jepang keenam, dalam lima tahun terakhir.

Keputusan siapa Perdana Menteri yang baru akan diketahui lusa (Senin, 29/8) melalui pemilihan oleh Parlemen.

Namun demikian berbagai kalangan di Jepang mengkritik kampanye para calon yang dianggap miskin visi, terutama menyangkut bagaimana cara mengatasi utang nasional yang terus menggelembung.

Selain itu lima calon tersebut dinilai belum mengambil sikap yang tegas mengenai masa depan program nuklir di negari sakura tersebut setelah kebocoran reaktor nuklir terjadi di Fukushima. Karena itu para pengamat menganggap mereka lebih peduli untuk mendapat suara sebanyak mungkin daripada bersaing visi dalam memecahkan masalah di Jepang.

“Dan, mereka tidak banyak bicara soal kebijakan,” kata Koichi Nakano, profesor ilmu politik di Universitas Sophia, Tokyo sebagaimana dilansir BBC (Sabtu, 27/8).rol/dem/LI-07