LENSAINDONESIA.COM: Sejak pagi hingga sore ini kesibukan Suswati sebagai penjual kembang ziarahan di kawasan Jalan Mojopahit dekat pertokoan Ramayana Sidoarjo terbilang padat. Betapa tidak, setiap hitungan menit, tidak lebih dari 5 menit, para pencari kembang untuk berziarah selalu mendatangi kiosnya untuk sekedar membeli kembang.

Maklum saja, hari ini (Selasa,30/8) adalah hari penghabisan bulan Ramadhan, sebuah hari yang sering dimanfaatkan umat Islam berziarah ke makam para keluarganya dengan berbekal kembang.

Menurut keyakinan yang sudah mendarah daging di mayoritas umat Islam Indonesia, kembang tersebut merupakan buah tangan untuk para arwah. Selain itu, ingin menunjukkan bahwa keluarga yang ditinggalkan (masih hidup) siap untuk meningkatkan ibadahnya.

Tak kalah pentingnya, tujuan utama berziarah adalah untuk mendo’akan arwah keluarganya yang sudah meninggal, agar mendapat ampunan dari Allah atas segala dosa-dosanya selama hidup di dunia.

Dalam pantauan di lapangan, Suswati masih asyik melayani para pembeli kembang di standnya. Laki-laki-perempuan, tua-muda, silih berganti meninggalkan tempatnya berjualan sambil membawa bungkusan kembang untuk berziarah.

Diantara belasan kios kembang yang ada, hanya milik Suswati yang paling laris (Laku). Karena penasaran kami pun bergegas mendatangi kiosnya untuk mengobrol sekenanya.

Walhasil, ada satu rahasia kesuksesan yang dilakukan oleh seorang Suswati, yaitu harus ikhlas serta tidak menolak orang membeli kembangnya dengan harga berapapun, semuanya tetap dilayani.

Menurut Suswati, setiap hari di bulan Ramadhan, omzet penjualannya bisa mencapai 4-5 Jutaan. Sedangkan untuk hari Jum’at legi bisa mencapai 10 hingga 12 Juta lebih. Apalagi mendekati lebaran seperti sekarang ini, bisa mencapai belasan Juta.

“Alhamdulillah kalo hari raya ini bisa mencapai 20 Juta lebih.”terangnya kepada LIcom.jani/LI-07