LENSAINDONESIA.COM: Portal berita ‘The Australian’ melaporkan, telah terjadi  kebakaran kedua di Pusat Penahanan Imigrasi Darwin.

Kebakaran tersebut disulut oleh para tahanan yang berasal dari Indonesia. Mereka geram lantaran tak diizinkan melakukan sholat ied di masjid.

Departemen Imigrasi Darwin menyatakan, kobaran api bisa dipadamkan sebelum membesar. Polisi Northern Territory dan petugas segera merespon, dan cepat mengusai keadaan di penjara imigrasi tersebut.

Menurut laporan The Australian tersebut, 20 kamar sel penjara pusat imigrasi tersebut hangus terbakar.

“Tindakan yang  tepat telah diambil untuk meredam situasi,” kata seorang juru bicara departemen Imigrasi.

Menurut juru bicara Aksi Kolektif Pengungsi, Ian Rintoul mengatakan, beberapa orang yang berbahasa Indonesia yang diduga menyulut kebakaran tersebut. Mereka memprotes karena dilarang sholat di masjid.

“Ada isu tentang bagaimana mereka akan merayakan Idul Fitri. Di akhir bulan Ramadhan, mereka minta sholat bersama di masjid, dan permintaan itu ternyata ditolak oleh Serco atau Imigrasi. Ada banyak ketegangan dengan tahanan Indonesia saat itu,” jelas Ian Rintoul.

Menurut Rintoul, kebakaran itu tidak dimulai oleh para pencari suaka, ”Para pencari suaka tidak terlibat, hanya anggota kru berbahasa Indonesia yang beraksi.”

Penjara Pusat Imigrisasi Darwin sebelumnya telah terjadi aksi protes oleh para tahanan, termasuk mogok makan atap pada bulan Juli.

Pada bulan yang sama, Rintoul mengatakan, ada enam tahanan yang mencoba bunuh diri di pusat penjara tersebut dalam periode tiga minggu.jks/LI-07