LENSAINDONESIA.COM: Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat,  Nazaruddin, didesak elite negara dan masyarakat agar bicara apa adanya, terbuka dan jujur. Sebab kasus korupsi politiknya senilai sekitar Rp6 triliun tidak mungkin dilakukan sendirian, pasti dilakukan secara struktural dan berjamaah.

Nazaruddin harus paham, suratnya yang meminta agar Presiden SBY menjaga ketenangan anak serta istrinya, Neneng Sri Wahyuni, dengan kompensasi tidak akan banyak bicara soal kasus-kasus yang dia ketahui, sudah mendapat jawaban.

Namun demikian, Presiden SBY tetap meminta Nazaruddin bicara apa adanya. Jika Nazar tidak bicara apa adanya, ia sudah tidak jujur pada dirinya sendiri dan menyulitkan dirinya serta menambah rumit kasus yang dihadapinya.

Publik belum lupa Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu dalam pelariannya menuding beberapa elit Partai Demokrat ikut menikmati aliran dana haram dari proyek pembangunan kompleks olahraga Hambalang di Bogor, Jawa Barat.

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu mengatakan, ada dana miliaran rupiah digelontorkan saat Kongres Partai Demokrat yang berlangsung 2010 lalu. Diduga, uang itu digelontorkan untuk pemenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketum Demokrat. Nazaruddin juga menyebut keterlibatan Angelina Sondakh, Andi Malarangeng, Wayan Koster dan sebagainya. Tentu semua itu perlu bukti, bukan hanya tudingan.

Presiden memang meminta Nazaruddin berbicara apa adanya. Meski kasusnya melibatkan politikus Partai Demokrat, Nazaruddin harus ingat dan paham bahwa dalam surat balasannya, Presiden SBY meminta agar Nazaruddin kooperatif menjalani pemeriksaan di KPK. Presiden juga kembali menegaskan tidak akan mencampuri kasus ini.

Terkait masalah keluarga Nazaruddin, menurut SBY, dalam semua kasus, tidak hanya kasus Nazaruddin, SBY selalu memerintahkan agar aparat penegak hukum bekerja profesional, menjamin keselamatan semua pihak. Adalah sudah menjadi tanggung jawab aparatur negara untuk menjamin ketenangan, kenyamanan dan keamanan seluruh warga negara.

Nazaruddin harus paham bahwa istrinya bakal diproses hukum KPK jika tertangkap kelak karena sudah jadi tersangka korupsi. Nazar dan istri menjadi bukti konkrit bahwa korupsi merasuki ruang keluarga politisi muda itu secara intensif, sebuah aib yang luar biasa.

Sebelumnya, dalam suratnya, Nazaruddin meminta kepada Presiden SBY agar segera memberikan hukuman penjara kepadanya tanpa perlu lagi mengikuti proses persidangan untuk membela hak-haknya. Nazaruddin rela dihukum penjara bertahun-tahun asalkan Presiden berjanji akan memberikan ketenangan lahir dan batin bagi keluarganya, khususnya bagi istri dan anak-anaknya.

Nazaruddin harus tahu bahwa tidak ada ampun bagi istrinya untuk dibebaskan dari jerat hukum karena terlibat korupsi. Sejarah tak memihak pecundang dan kleptokrat yang sudah menjadi common enemy publik di negeri ini.

Akhirnya, mari kita dorong Nazaruddin bicara apa adanya, agar tuntas perkaranya, dan tak ada dusta di antara kita. Nazaruddin, bicaralah apa adanya, biar publik tahu siapa saja yang terlibat dan bersalah. *Herdi Sahrasad, alumni HMI, wartawan senior,  dan doktor (PhD) di bidang sosiologi politik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta