Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Amerika

Gawat, Sampah Angkasa dalam Keadaan Bahaya 

LENSAINDONESIA.COM: Para ahli di Amerika Serikat memperingatkan NASA bahwa jumlah sampah angkasa di orbit Bumi telah mencapai tahap yang membahayakan. Laporan yang disiapkan Dewan Riset Nasional menyebutkan sampah tersebut bisa menyebabkan kebocoran di wahana antariksa atau menghancurkan satelit.

“Jumlah sampah yang mengorbit Bumi dinilai bisa saling bertabrakan, yang pada gilirannya akan menambah jumlah pecahan sampah. Ini semua menambah risiko kerusakan pada pesawat-pesawat antariksa,” demikian kata laporan tersebut.
Upaya untuk mengurangi jumlah sampah angkasa dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemunduran akibat beberapa faktor.

Pada 2007, Cina melakukan uji coba senjata antisatelit dengan menghancurkan satelit yang tidak lama terpakai di angkasa. Uji ini menghasilkan tak kurang dari 150.000 pecahan satelit dengan ukuran sekitar 1 cm.
Upaya pembersihan Dua tahun kemudian, dua satelit, salah satunya masih aktif, bertabrakan di orbit dan menambah jumlah pecahan sampah di angkasa.

“Dua kejadian ini langsung menggandakan pecahan-pecahan kecil di orbit Bumi. Upaya pembersihan yang kami lakukan dalam 25 tahun terakhir menjadi sia-sia,” kata Donald Kessler, salah satu ahli di Dewan Riset Nasional.

Stasiun ruang angkasa internasional (ISS), yang mengorbit Bumi dengan kecepatan 28.164 km/jam, kadang juga harus melakukan manuver untuk menghindari tabrakan dengan sampah-sampah angkasa.

Juni lalu, beberapa pecahan nyaris menabrak ISS, bahkan sempat membuat enam awaknya memasuki kapsul penyelamat dan menyiapkan evakuasi ke Bumi. “Situasinya sungguh kritis,” kata Kessler yang juga mantan ilmuwan NASA tersebut.
Dewan Riset Nasional menyerukan penyusunan peraturan internasional untuk membatasi sampah angkasa.

Lembaga ini juga meminta lebih banyak penelitian untuk mencari cara yang efektif membersihkan angkasa dari sampah.bbc/bam/LI-07

Baca Juga:  Ini maksud KPK jelaskan serahkan 'mandat' kepada presiden