LENSAINDONESIA.COM: Neoliberalisme semakin gencar dicanangkan. Dalam acara One Young World Summit 2011 yang berlangsung dari tanggal 1 sampai dengan 4 September 2011, acara tersebut khusus membahas paham neoliberalisme.

Acaranya sendiri dibuka 1 September 2011, pukul 19.00 waktu Zurich atau pada tanggal 2 September pukul 00.00 WIB.  Banyak hal yang dibahas. Panitia acara membukanya dengan presentasi, lalu dilontarkanlah isu-isu strategis.

Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Twedy Noviady dalam keterangan persnya, Jumat (2/9) mengatakan, “Pertama, peran pemuda dalam membangun dunia yang lebih baik. Dalam hal ini, delegasi yang hadir, yang merupakan representasi dari pemuda seluruh dunia diharapkan memiliki paradigma pembangunan dunia.”

Pemuda, kata Twedy, didorong untuk pro aktif dalam membangun masyarakat di negara masing-masing. Pemuda juga diharapkan memiliki jaringan internasional yang mumpuni, sehingga pemuda menjadi subjek pembangunan Negara dan dunia.

“Pemuda tak lagi tersekat oleh perbedaan suku bangsa dan asal negara masing-masing,” sambungnya.

Sepintas, sambung Twedy, isu tersebut sangat menarik. Akan tetapi bila kita lebih cermat, forum tersebut merupakan ajang investasi pemikiran (brain drain) neoliberalisme oleh perusahaan multinasional kepada para delegasi.  “Ini dilakukan, tak lebih hanya agar paradigma neoliberalisme dapat diterima dan diterapkan di seluruh dunia,” katanya lagi.ari/LI-07