LENSAINDONESIA.COM: Tuntutan penjara selama 5 tahun terhadap terdakwa Moch. Jamaluddin (28), warga Jl Raya Tempurejo, Surabaya yang tersandung masalah trafficking, perlindungan anak dan mengajak korban yang masih di bawah umur berhubungan badan, dinilai lemah.

Tidak hanya itu, penasehat hukum (PH) terdakwa, Ben Hadjon, SH menuding jika tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Ika Maulidina, SH asal Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya lemah dan jaksa terkesan merekayasa pasal. Tujuannya, agar semua unsur bisa dijeratkan pada Jamaluddin.

“Kami melihat, tuntutan jaksa ini lemah. Tuntutan yang begitu tinggi, namun uraian peristiwa yang di tulisan dalam tuntutan hanya sejengkal. Parahnya lagi, dalam tuntutan itu juga tidak didukung dengan uraian saksi (RDW),” beber Ben Hadjon, Senin (5/9).

Dijelaskan Ben, dalam tuntutan itu dijelaskan, bahwa saksi Devi tidak mempunyai perasaan suka sama suka dengan terdakwa, tetapi terpaksa melayani keinginan terdakwa karena ada janji atau imbalan berupa uang Rp 400.000 (empat ratus ribu). Bahwa atas kejadian tersebut saksi merasa menyesal dan trauma.

“Di sini kan sangat jelas, tidak ada unsur pemaksaan. Saksi mau melayani terdakwa karena ada kesepakatan. Jadi mana bisa dikatakan ada pemaksaan, tipu muslihat, bujuk rayu dan lainnya. Saksi juru parkir hotel, melihat jelas antara korban dan terdakwa datang berboncengan. Bahkan saat masuk menuju kamar hotel, tidak terlihat adanya tekanan atau paksaan apalagi sampai adanya kekerasan. Ini kan aneh,” sambungnya.

Lebih dari itu, penerepan pasal berlapis ini, Ben menuding jika jaksa sengaja merekayasa agar semua pasal mengena pada terdakwa. Namun kenyataannya, terdakwa justru dijerat pasal 81 ayat (2) UU RI No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

“Kalau dikatakan pasal trafficking, jelas tidak bisa. Klien kami ini hanya pengguna dari jasa orang lain. Lalu kalau dikenakan pasal 287 ayat (1), malah tidak bisa,” urainya.

Untuk diketahui, perkara Jamaluddin ini bermula ketika ia berhubungan badan dengan RDW (15) di Hotel Cahndra kamar 15, Jl Kapas Krampung pada 5 Pebruari 2011 sekitar pukul 17.30.

Terdakwa membawa RDW, setelah ditawari oleh Anas (berkas terpisah) yang tidak lain adalah mantan muridnya di bangku SMA, bahwa ada cewek yang ‘Bispak’ (bisa pakai) alias diajak kencan dengan tarif Rp 1 juta. Terdakwa lalu menawar Rp 400 ribu dan kemudian disepakati oleh Anas.

Setelah terjadi kesepakatan harga, terdakwa lalu menjemput RDW di tempat kos Anas di Jl Kedinding Lor. Terdakwa datang menggunakan motor. Setelah itu keduanya (Jamal dan RDW) berboncengan menuju ke hotel yang hendak dipakai untuk kencan.

Usai berkencan dengan RDW, terdakwa lalu memberikan uang sesuai dengan kesepakatan. Baru kemudian, Jamal mengantarkan RDW ke tempat kos Anas. Keesokan harinya, Jamal ditangkap di rumahnya oleh anggota Polrestabes Surabaya sekitar pukul 13.00 berdasarkan laporan orang tua RDW jika anaknya telah menjadi korban trafficking.bam/LI-07