LENSAINDONESIA.COM: Keputusan PWNU untuk mengambil alih kepemimpinan NU cabang Sidoarjo beberapa waktu lalu mendapat tanggapan yang beragam dari kalangan internal NU. Mayoritas ketua MWC NU (Kecamatan) merasa kecewa dengan keputusan tersebut. Bahkan ada yang menilai tidak fair.

KH Turmidzi, ketua Majelis Wakil Cabang NU (MWC) Gedangan sangat menyayangkan tindakan yang telah diambil oleh PWNU Jawa Timur itu. Selain tidak populer, tindakan itu bisa menimbulkan sikap antipati para pengurus ditingkatan bawah.

“Mestinya, PWNU harus memberi contoh yang baik dengan tidak membekukan kepengurusan seperti ini. Ini kan tidak fair.” terangnya kesal kepada LIcom, Rabu (7/9/2011).

Menurut pemilik dan pengasuh salah satu yayasan untuk anak yatim piatu di Sidoarjo ini, PWNU dianggap tidak fair, karena menafikan hasil konferensi yang telah digelar dengan tenaga, pikiran serta biaya yang tidak sedikit.

Selain itu, segala pilihan yang sudah ditawarkan oleh PWNU saat pemilihan ketua NU Sidoarjo sudah dilaksanakan sesuai kesepakatan bersama para peserta konferensi dan tidak melanggar AD/ART yang baru, produk hasil Muktamar NU di Makassar.

“Dalam AD/ART itu tidak menyebutkan ketua Ranting NU harus ikut memilih, hanya mengikuti saja.”tambahnya.

Pendapat KH Turmidzi ini didukung oleh beberapa ketua MWC NU yang lain, diataranya MWC NU Sidoarjo kota, H Qodim yang juga menjadi ketua Forum MWC NU se- kabupaten Sidoarjo.

Katanya, kemungkinan dunia ini sudah semakin dekat dengan kiamat, sehingga banyak tindakan maupun sikap manusia yang tidak memperhatikan aturan agama maupun etika didalam bermasyarakat maupun berorganisasi.

“Mungkin dunia ini sudah dekat kiamat, sehingga banyak orang yang bertindak tanpa memperhatikan agama dan etika.”sindirnya

Dikonfirmasi persoalan tersebut, ketua PWNU Jawa Timur, KH Hasan Mutawakkil Alallah tidak memberikan komentar apapun ketika dihubungi melalui selulernya. Jani/LI-08