LENSAINDONESIA.COM: Menjelang sidang lanjutan perkara narkoba dengan terdakwa Haryo Awongso (19), warga Jepara, Selasa (6/9/2011) di PN Surabaya, sempat terjadi ketegangan antara penasehat hukum (PH) terdakwa dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Elseus Salakory SH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim.

Rencana pemeriksaan saksi kunci penangkapan dari anggota Reskoba Polda Jatim, Dedy Aprianto, hanya dibacakan oleh JPU di hadapan majelis hakim. Namun, niat JPU untuk membacakan keterangan saksi mendapat bantahan keras dari kuasa hukum terdakwa. Pasalnya, saksi kunci harus dihadirkan untuk dimintai keterangan. Sayangnya, hingga sekarang saksi kunci dari Polda Jatim tetap mangkir dari sidang.

“Kalau hanya dibacakan saja, percuma. Fakta lainnya tidak akan terungkap. Termasuk, proses penangkapan yang salah. Ini ada apa? Karena klien kami, jelas-jelas dijebak polisi,” ujar Budi Gandi dari Lembaga Advokasi Hukum Kosgoro Jatim.

Akibat penolakan itu, Majelis Hakim Unggul SH terpaksa menunda sidang satu minggu ke depan. Dengan agenda meminta JPU menghadirkan saksi penyidik yang melakukan penangkapan.

Budi juga menyayangkan sikap JPU yang terlalu intervensi terhadap terdakwa, yang sedianya dinyatakan bersalah. Artinya, terdakwa diminta tidak ngeyel dan mengakui perbuatannya. Mengingat, teman terdakwa Sofyan (berkas berbeda) bakal segera dituntut JPU sama. “Tidak semestinya JPU mengintervensi klien kami, seolah-olah klien kami ini mutlak bersalah. Kesannya ditakut-takuti. Padahal, fakta sebenarnya tidak seperti itu,” tegas Budi.

Sementara, JPU Elseus saat dikonfirmasi LENSAINDONESIA.COM mengatakan, jika kesaksian dua saksi sebelumnya antara Dadang Prasetyo dan Sofyan dirasa sudah cukup. Menurutnya, tidak ada alasan jika kesaksian Dedy yang tidak bisa hadir cukup dibacakan saja. “Dua kesaksian sebelumnya, saya rasa sudah cukup. Karena sudah beberapa kali dipanggil tapi tidak datang, cukup kita bacakan saja, tidak masalah. Secara prosedur, sudah 3 kali kita panggil. Bahkan, penyidik polisi juga sempat manggil, tetap tidak hadir,” tandas Elseus.

“Kalau tetap tidak datang, akan saya bacakan langsung. Mengingat, waktu penahanan terdakwa ini mau habis. Kita juga banyak sidang yang lainnya. Tapi paling tidak, bisa jadi pehatian saksi, agar mau datang. Tunggu saja minggu depan,” jelas Elseus.

Seperti diketahui, kasus Haryo berawal ketika anggota Reskoba Polda Jatim menangkap terdakwa di parkiran Mc Donald, Jl Basuki Rahmad Surabaya pada 21 April 2011. Saat ditangkap, Haryo kedapatan membawa 3 butir ekstasi yang diperolehnya dari Sofyan. BAM/LI-10