LENSAINDONESIA.COM:  Jawa Pos ternyata menyimpan banyak kisah orang-orang hebat. Nyaris di era kejayaan Jawa Pos sekarang sulit ditemukan orang-orang seperti ini. Unik. Beda. Optimistis. Loyal. Militan. Berprinsip. Berdedikasi tinggi terhadap profesi. Superior (pada diri).  Dan pastinya, jarang ditemui di media mana pun.

Dia, profesinya wartawan. Bahkan meski Jawa Pos –andai– ambruk, dia tetap dikenal sebagai wartawan. Namanya, Nasarudin Ismail. Sekarang sudah pensiun. Delapan tahun lalu tepatnya. Usianya kini tidak muda lagi, 58 tahun. Tapi, dia masih berkarya sebagai wartawan di grup Jawa Pos (Radar Surabaya).

Nasarudin termasuk generasi pertama, perintis, bisa dibilang demikian. Dia bergabung dengan Jawa Pos pada Januari 1980. Saat itu Jawa Pos belum di-merger Tempo. Dahlan Iskan belum ada. Masih dikelolah  keluarga  The Chung Shen, pendiri koran ini pada 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post.

Nasarudin bercerita, ketika itu orang hanya mengenal Surabaya Post.   Keberadaan Djawa Post kerap dipandang sebelah mata.

“Djawa Post belum populer (laiknya Surabaya Post). Setiap bertemu narasumber, orang selalu bertanya-tanya apakah koran Djawa Post berbahasa Jawa, dan saya bilang tidak. Djawa Post saat itu benar-benar masih asing,” kata Nasarudin kepada LIcom.

Mengutip istilah orang Jawa, lanjut Nasarudin, Djawa Post (kala itu) tak ubahnya koran sak becak (satu becak). Artinya, koran ini belum ada apa-apanya. Belum punya brand name. Image pun belum terbangun. Tirasnya, ya itu tadi, cuma satu becak. Tapi Djawa Post tetap ngotot melawan koran besar seperti Surabaya Post.

“Itu tidak masuk akal,” kenang Nasarudin.

Yang semakin membuat tidak masuk akal, kata Nasarudin, sistem gaji wartawan disesuaikan dengan ukuran panjang tulisan.

“Gaji wartawan diukur berdasarkan ukuran centimeter (panjang tulisan) atau per kolom. Setiap bulan pasti ada orang yang mengukur berita-berita wartawan. Karena itu sulit bagi kami untuk bersaing dengan koran-koran lain, bila melihat sistemnya yang masih sangat konvensional,” aku Nasarudin.

Yang menarik lagi, kata Nasarudin, semangat bertahan hidup Djawa Post  kala itu benar-benar diuji. Djawa Post sama sekali tidak hebat seperti setelah di-merger Tempo, maupun sekarang dimana semua serba instan.

Nah, memasuki tahun 1982, Tempo masuk dan take over  Djawa Post. Di situ semua sistem mulai berubah. Dahlan Iskan yang kala itu duduk sebagai Redaktur Pelaksana mulai memainkan permainan cantik.  Saat itu, Pimrednya masih dipegang Ute, seorang pensiunan TNI AD.

Ceritanya, Djawa Post — kemudian huruf   “t”-nya dihilangkan, juga Dj ganti J– memiliki perwakilan atau biro di Jakarta. Nasarudin pun mulai berkisah. Setiap kali biro wartawan itu mengirim berita, selalu dilakukan dengan cara manual. Caranya, si wartawan menelpon dan melaporkan hasil reportasenya. Dan orang Surabaya (awak redaksi) yang mencatat.

“Jangankan internet, mesin fax saja belum ada. Sehingga setiap kali hendak menulis berita dari Jakarta, kami selalu mencatat setiap reportase. Kayak mendengarkan radio, saya sampai pegal nulisnya,” kata Nasarudin mengisahkan.

Tak hanya berita, untuk foto pun demikian. Nyaris semua foto hasil jepretan wartawan dititipkan (klisenya) melalui penumpang pesawat dari Jakarta tujuan Juanda. Sementara di Surabaya, Jawa Pos setiap hari mencarter bemo di Jembatan Merah (kantor Jawa Pos di Kembang Jepun) untuk mengambil foto di bandara Juanda.

Jawa Pos mulai berkembang di tangan Dahlan Iskan. Diakui Nasarudin, tidak mudah membangun Jawa Pos. Koran ini benar-benar memulai dari bawah. Ibaratnya, dari tidak ada menjadi ada.

Setelah Ute tidak lagi menjabat (pensiun), Jawa Pos kemudian dipegang Dahlan Iskan. Di situ titik awal perkembangan koran Jawa Pos. Rukun iman Jawa Pos lambat laun mulai terbentuk.

Berita-berita yang disajikan Jawa Pos lain dari yang lain. Berbeda. Debt news. Sarat color news. Run news. Ringan, komunikatif. Ekslusif, aktual, faktual, urgen, trendsetter, original, valid,  security. Dan, berimbang.

“Kelebihan itu yang membuat Jawa Pos mampu merebut simpati pembaca,” kata Nasarudin.

Apalagi, Jawa Pos juga berhasil merebut simpati pembaca dengan cara by design. Yah, kepedulian Jawa Pos terhadap sepakbola Surabaya berhasil mengendalikan minat pembaca. Cinta suporter Persebaya dengan slogan Kami Haus Gol, membuat kecintaan mereka (pembaca) sangat besar. Mereka menaruh harapan terhadap koran daerah terbitan Surabaya tersebut. Antusias pembaca kian tak terbendung.

“Ada istilah kalau zaman dulu, kalau tidak baca Jawa Pos, rasanya kok tidak enak,” lanjut wartawan senior Jawa Pos ini.

Keberhasilan Jawa Pos mengembangkan bisnis di dunia media, tentunya tidak terlepas dari peran semua orang. Kendati pemimpin Jawa Pos berbeda, tetap pola yang diterapkan sama.

“Pemimpin berbeda, cara tetap sama, taste-nya sama. Itulah rukun iman Jawa Pos yang sudah terbentuk,” imbuh Nasarudin.

Kala itu wartawan Jawa Pos memang dituntut untuk tidak menjadi pekerja melainkan pengarya. Semua wartawan dianggap punya andil membesarkan perusahaan. Stereotipe mereka, sama-sama memiliki. Itulah senjata ampuh membangun semangat wartawan.

Lambat laut Jawa Pos mulai dikenal orang karena karya-karyanya. Mainstream ala Jawa Pos terbukti berhasil menyedot perhatian banyak orang. Tiras naik.  Dan, wartawan bekerja seolah tanpa memikirkan gaji, sebab gaji dan kesejahteraan akan datang sendiri manakala karya sudah terbentuk.

“Kami bekerja tanpa kenal waktu, tanpa memikirkan berapa gaji kami. Karena kami bekerja memiliki visi dan misi yang sama, yakni mengembangkan perusahaan,” kata Nasarudin.

Namun demikian, sepanjang hidup menghabiskan waktu di Jawa Pos, Nasarudin tetaplah seorang wartawan. Dia nyaris tidak mengenyam ‘bangku’ jabatan maupun cita-cita mendapat gaji setinggi langit seperti para redaktur dan pimpinan Jawa Pos.

Baginya, menjadi wartawan adalah pengabdian. Komitmen itulah yang menjadi pondasi seorang Nasarudin. Menjadi wartawan seumur hidup di Jawa Pos, wartawan abadi–kata orang–tidak ada yang salah. Justru di kalangan TNI (posnya), Nasarudin lebih terkenal sebagai Nasarudin (wartawan) ketimbang Jawa Pos-nya sendiri. Padahal semua teman-temannya yang berpangkat kopral (awalnya) sudah menjadi jenderal. Sementara, Nasarudin tetaplah Nasarudin.

Prinsip-prinsip jurnalis model Nasarudin inilah yang langka, jarang ditemui wartawan zjaman sekarang. Dan, orang-orang seperti Nasarudin-lah yang membuat nilai Jawa Pos tinggi di mata masyarakat, khususnya pembaca.bersambung/novi/LI-07