LENSAINDONESIA.COM: Indonesia kembali berduka, kota Ambon kembali bergolak. Hari minggu pada tanggal 11 September 2011 telah terjadi bentrokan berdarah antar kelompok masyarakat.

Dalam hal ini, sampai sekarang jumlah korban meninggal yang dilansir oleh beberapa media ada 5 orang.

Dari beberapa sumber, bentrokan tersebut terkait dengan kecelakaan yang terjadi pada seorang tukang ojek bernama Darkin Saimen. Nyawa tukang ojek itu kemudian tak terselamatkan sebelum sampai ke rumah sakit.

Hal inilah yang menimbulkan dugaan ia sebenarnya dibunuh, bukan karena kecelakaan.  Hal itu kemudian menyulut pertikaian antara dua kelompok. Mereka saling melempar batu dan merusak sejumlah fasilitas.

Kerusuhan yang kembali terjadi di kota Ambon tersebut tentunya sangat mengejutkan kita semua. Apalagi pada dasarnya, masyarakat Ambon adalah warga yang sangat mencintai perdamaian dan persatuan.

Dalam hal ini, kekacauan yang terjadi di Ambon itu menunjukkan lemahnya respon dan koordinasi aparat keamanan sebelum dan sesudah terjadinya kerusuhan.

Di sisi lain, selama ini ada kesan yang diciptakan dengan mengondisikan Ambon sebagai daerah konflik. Contohnya, dengan menambah jumlah pasukan, baik TNI maupun Polri dengan berbagai persenjataan beratnya. Padahal pendekatan militeristik tersebut justru semakin memanaskan situasi. Padahal kota Ambon harus dibuat damai dan sejuk dengan memaksimalkan peran tokoh-tokoh agama, adat dan masyarakat yang ada.

Dalam hal ini tentunya semua insan pers untuk berpihak kepada upaya perdamaian dan kehidupan masyarakat Ambon yang lebih baik. Agar kejadian lebih besar seperti kerusuhan Ambon tahun 1999 tidak terulang kembali.

Jurnalis harus  menggunakan peace journalism yang mengedepankan prinsip menghindari kekerasan, konflik, dan memegang prinsip nilai kemanusiaan.

Jurnalis juga harus menyajikan foto-foto yang mampu membuat kedua kelompok yang bertikai menghentikan konflik dengan mengupayakan foto-foto yang tampil bisa meredam atau mendinginkan suasana, jangan malah dipanas-panasi dengan foto yang menggambarkan kekerasan ataupun korban kekerasan.

Menampilkan sisi sikap toleransi antar kelompok dan masyarakat sehingga membangun kesadaran kolektif untuk saling menghormati demi keutuhan masyarakat di Ambon

Maka itulah, para aktivis yang tergabung dalam Serikat Buruh Kerakyata-Komite Persiapan Konfederasi Serikat Nasional (SBK-KP KSN), Aliansi Jurnalis Independen Surabaya (AJI), Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga (FAM Unair), Pewarta Foto Indonesia Surabaya (PFI), dan Serikat Kedaulatan Mahasiswa untuk Rakyat (SKMR), dalam rilisnya yang diterima LIcom, menggalang aksi solidaritas di monumen Grahadi Surabaya, Senin (12/9).

Dalam aksi solidaritas itu mereka menyatakan sikap:

1. Bahwa ikut berduka cita sedalam-dalamnya atas jatuhnya beberapa korban jiwa akibat kerusuhan di kota Ambon.

2. Menyerukan kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk melakukan pendekatan persuasif di banding pendekatan militeristik dalam menyelesaikan bentrokan warga tersebut.

3. Mengimbau kepada segenap media untuk membuat pemberitaan yang mengarah pada upaya untuk membuat situasi semakin aman dan kondusif, jangan sampai sebaliknya malah memperkeruh keadaan.

4. Mengharap kepada semua pihak dan seluruh rakyat Indonesia menggalang solidaritas untuk perdamaian, persatuan, dan gotong royong sehingga tidak mudah terprovokasi dalam isu SARA.LI-07